Kecelakaan jet pribadi Learjet di Florida yang menewaskan sembilan orang diduga melibatkan serangkaian kesalahan manusia, mulai dari keputusan menembus badai hingga manuver naik yang memicu stall. Pesawat senilai USD 2 juta itu jatuh dan meledak dekat taman karavan di Palm Beach County setelah kehilangan daya angkat di ketinggian sekitar 10.668–11.277 meter. Investigasi resmi masih berjalan, tetapi pakar penerbangan menilai kombinasi cuaca ekstrem dan tekanan psikologis pilot mempercepat bencana.
Kecelakaan mengerikan jet pribadi Learjet di Florida hari Minggu menewaskan sembilan orang di dalamnya, termasuk pengusaha teknologi Adam Robinson (44), istrinya Helen, dua anak mereka Emma (4) dan Charlie (2), dua teman dewasa, serta seorang pengasuh anak. Pesawat senilai USD 2 juta itu dalam perjalanan menuju Bahama dari Texas ketika terbang menembus badai dan mendadak kehilangan daya angkat.
Pihak berwenang masih menyelidiki penyebab pasti kecelakaan. Namun sejumlah pakar penerbangan menyoroti dugaan kesalahan fatal manusia yang mungkin menjadi pemicu utama insiden tersebut.
Keputusan Menembus Badai Jadi Sorotan
Pakar penerbangan Justin Crabbe menilai pilot memilih menembus badai berbahaya, lalu mencoba manuver menghindari berisiko yang berujung petaka. Menurutnya, pengatur lalu lintas udara telah memberi keleluasaan bagi pesawat untuk mengubah arah demi menghindari cuaca buruk.
"Mereka seharusnya memutar menghindari badai. Pengatur lalu lintas udara telah memberi mereka fleksibilitas untuk mengubah arah guna menghindari cuaca buruk itu," kata Crabbe, pilot veteran dan CEO Jettly, platform pemesanan penerbangan.
Crabbe tidak mengetahui alasan pasti kedua pilot tidak mengambil jalur memutar. Ia menduga mereka hanya ingin segera sampai ke tujuan.
"Itu adalah teori yang disebut 'get-there-itis' (sindrom memaksakan diri agar cepat sampai), dan sekolah penerbangan mengajarkan hal ini sejak awal," ungkap Crabbe.
Kopilot Minta Izin Naik ke Ketinggian 11.277 Meter
Kopilot pesawat, Nathalia Filgueiras (20), meminta dan memperoleh izin untuk naik dari ketinggian 10.668 meter ke 11.277 meter guna melewati cuaca buruk. Sebelumnya ia melaporkan suhu udara di luar berada di bawah nol derajat dan es mulai terbentuk di lambung pesawat.
Es menjadi masalah serius bagi pesawat. Lapisan es mengacaukan aliran udara di sekitar sayap sehingga pesawat lebih sulit mempertahankan daya angkat. Learjet dalam kecelakaan ini sebenarnya dilengkapi alat penghilang es, tetapi penumpukan es bisa berlangsung sangat cepat dalam kondisi ekstrem.
Upaya terbang keluar dari bahaya justru diduga memperburuk situasi. "Mereka mencoba naik untuk mencari udara lebih cerah, yang mungkin menjadi salah satu faktor penyumbang yang mempercepat terjadinya stall," kata Crabbe.
Mengapa Manuver Naik Memicu Stall
Saat hidung pesawat diangkat, sudut serang antara sayap dan aliran udara meningkat. Ketika sayap sudah tertutup es, sayap harus bekerja lebih keras untuk menghasilkan daya angkat, dan sudut yang memicu stall menjadi lebih rendah dari batas normal.
Pada titik itu, pilot terjebak dua pilihan buruk: terus naik dengan risiko stall atau menukik lebih jauh ke dalam badai dengan risiko penumpukan es yang lebih parah.
Bahkan seandainya upaya terakhir untuk naik berhasil, hasilnya mungkin tidak banyak berubah. Pesawat itu terbang menembus sistem badai konvektif tidak biasa dengan ketinggian mencapai hampir 15.240 meter, menurut data NOAA.
"Ini seperti badai masalah sangat sempurna. Anda menghadapi turbulensi, menghadapi pembentukan es, menghadapi curah hujan. Dan Anda menghadapi badai petir sangat tinggi yang tampaknya terbentuk sangat cepat," kata pengacara penerbangan Zachary S. Gorwitz.
Faktor Usia Kopilot Dianggap Bukan Penyebab Utama
Begitu pesawat mulai menukik tajam, ruang gerak pilot sangat terbatas, terutama karena pesawat tampaknya mulai hancur sebelum membentur tanah. "Pada titik tersebut, saya yakin pilot mencoba menarik mundur tuas kendali dan mengangkat hidung pesawat, tapi saya yakin pada kecepatan dan sudut itu, itu tak mungkin dilakukan," ujar Gorwitz.
Gorwitz meragukan kecelakaan ini berkaitan dengan usia kopilot yang masih 20 tahun. Menurutnya, fakta bahwa kopilot yang berbicara di radio justru menunjukkan pilot utama yang memegang kendali penuh atas pesawat saat insiden terjadi.
Hingga kini otoritas penerbangan setempat belum merilis kesimpulan resmi. Temuan awal mengarah pada kombinasi cuaca ekstrem, penumpukan es, dan keputusan penerbangan yang dinilai berisiko menjadi faktor yang saling memperkuat dalam tragedi ini.