Bulog Lepas 380 Ribu Ton Beras Pecah Rp 11 Ribu per Kg untuk UMKM

Kamis, 05 November 2026 | 08:03:02 WIB
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengumumkan penjualan 380 ribu ton beras pecah Bulog seharga Rp 11 ribu per kilogram untuk UMKM.

Perum Bulog menjual 380 ribu ton beras pecah yang tersimpan setahun di gudangnya dengan harga Rp 11 ribu per kilogram untuk memasok bahan baku pelaku UMKM, terutama perajin kue dan produsen bihun rumahan. Keputusan itu diambil lewat rapat koordinasi bidang pangan agar pengusaha kecil tidak lagi bergantung pada pasokan impor. Harga yang ditetapkan pemerintah diharapkan menekan biaya produksi mereka.

Palembang, Sumatera Selatan — Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengumumkan kebijakan itu saat berada di Palembang, Rabu (4/11/2026). Menurut dia, beras pecah selama ini menumpuk di gudang Bulog dan belum terserap pasar.

“Beras yang satu tahun di Bulog ada 380 ribu ton itu kita lelang. Sudah putus, saya sudah putuskan di rapat menko, dijual dengan harga Rp 11 ribu per kilogram,” ujar Zulkifli.

Beras pecah bukan beras konsumsi rumah tangga. Jenis ini biasa dipakai sebagai bahan baku kue tradisional dan bihun rumahan, sehingga permintaannya datang dari sektor usaha kecil, bukan pasar ritel umum.

Siapa yang Boleh Membeli dan Bagaimana Caranya

Pelaku UMKM yang membutuhkan pasokan diminta berkoordinasi langsung dengan pimpinan wilayah Bulog di daerah masing-masing. Jalur ini dipilih agar penyaluran tidak menumpuk di satu titik dan stok bisa dijangkau perajin di berbagai daerah.

Zulkifli menegaskan ketersediaan bahan baku dengan harga tetap membantu pelaku usaha menjaga biaya produksi. Selama ini sebagian perajin mengandalkan bahan impor yang harganya mengikuti pergerakan kurs dan pasokan global.

Jagung untuk Pakan Ikut Dijual di Harga Pokok

Pemerintah menyiapkan langkah serupa untuk pakan ternak. Bulog mengelola stok jagung 100 ribu hingga 150 ribu ton yang akan dijual kepada UMKM peternak ayam pedaging dan petelur dengan harga pokok Rp 5.500 per kilogram.

“Karena harga jagungnya naik, harga pakannya naik, maka harga ayam dan telur sedikit naik. Bulog punya 100 ribu-150 ribu ton, sudah kita putuskan dijual harga pokok Rp 5.500 untuk UMKM peternak ayam atau petelur,” tutur Zulkifli.

Langkah ini menyasar akar persoalan: biaya pakan menyumbang porsi terbesar dalam struktur produksi ayam dan telur. Jika harga jagung terkendali, kenaikan harga di tingkat konsumen diharapkan ikut tertahan.

Ditopang Stok Beras 25 Juta Ton

Kebijakan ini berangkat dari posisi stok pangan nasional yang sedang tebal. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut stok beras nasional mencapai 25 juta ton, angka tertinggi sepanjang sejarah.

Rinciannya, 10 juta ton berupa tanaman padi yang masih di lahan, 10 juta ton di sektor rumah tangga serta hotel, restoran, dan katering, dan 4,5 juta ton tersimpan di gudang Bulog. Dengan konsumsi rata-rata 2,5 juta ton per bulan, pasokan itu diproyeksikan cukup hingga Juli 2027 tanpa impor.

“InsyaAllah stok kita aman sampai bulan Juli. Stok saat ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah,” ujar Amran usai rapat koordinasi ketahanan pangan di Jakarta, Senin (26/10/2026).

Klaim swasembada itu bertahan dua tahun berturut-turut tanpa impor beras. Penopangnya program percepatan seperti pompanisasi, optimalisasi lahan, perbaikan irigasi, dan penggunaan benih tahan kering di tengah ancaman El Nino.

Bagi perajin kue dan produsen bihun, keputusan menjual beras pecah Rp 11 ribu per kg memberi kepastian bahan baku sekaligus menutup celah ketergantungan impor. Bagi Bulog, langkah ini sekaligus memutar stok lama yang menumpuk di gudang agar tidak menua lebih lama.

Terkini