Riset Populix: Gen Z dan Milenial RI Siapkan Rp493 Juta untuk Beli Mobil

Rabu, 04 November 2026 | 12:23:01 WIB
Riset Populix mencatat rata-rata anggaran calon pembeli mobil di Indonesia mencapai Rp493 juta.

Populix mencatat rata-rata anggaran calon pembeli mobil di Indonesia mencapai Rp493 juta, dengan satu dari lima responden tertarik pada mobil listrik maupun hybrid. Ketertarikan terkuat datang dari milenial muda dan Gen Z usia 25-35 tahun dari kalangan menengah ke atas. Hyundai, BYD, dan Toyota memimpin daftar merek yang paling dilirik konsumen muda.

Lembaga riset Populix memetakan pergeseran minat beli mobil di pasar otomotif nasional. Mobil bermesin konvensional masih mendominasi, tetapi kendaraan listrik dan hybrid mulai mendapat tempat di kalangan generasi muda. Temuan disampaikan Associate Research Director Populix Susan Adi Putra kepada CNBC Indonesia melalui jawaban tertulis.

Anggaran Rp493 Juta dan Segmen Usia 25-35 Tahun

Kemampuan belanja calon pembeli mobil terbilang besar. Rata-rata anggaran yang disiapkan mencapai Rp493 juta, dengan pertimbangan mencakup teknologi, desain, hingga reputasi merek di pasar otomotif.

Ketertarikan pada mobil listrik dan hybrid paling banyak muncul dari milenial muda dan Gen Z berusia 25-35 tahun yang berasal dari kalangan menengah ke atas. Satu dari lima responden mengaku tertarik memiliki kendaraan elektrifikasi tersebut.

Lima Merek dengan Ketertarikan Tertinggi

Riset Populix tidak merinci model spesifik yang paling dibidik konsumen. Pemetaan dilakukan berdasarkan merek, dengan produsen asal Jepang, Korea Selatan, dan China masuk dalam daftar yang menarik perhatian.

Susan menyebut lima merek dengan angka ketertarikan cukup tinggi. Urutannya Hyundai 50%, BYD 43%, Toyota 39%, Honda 27%, dan Wuling 20%.

"Karena banyaknya tipe mobil yang tersedia di pasar saat ini, studi kami tidak menelitinya secara spesifik. Namun, menurut data kami ada lima merek yang angka ketertarikannya cukup tinggi, yaitu Hyundai (50%), BYD (43%), Toyota (39%), Honda (27%), dan Wuling (20%)," ungkap Susan.

Dari sisi harga, sejumlah model di kisaran Rp400 juta hingga Rp500 juta yang masuk radar antara lain Honda HR-V SE, Chery Tiggo 8 CSH, BYD Atto 3, Mazda 3, dan Toyota Corolla Cross.

Kekhawatiran Infrastruktur Pengisian Daya Mulai Turun

Perubahan minat tidak lepas dari perkembangan teknologi kendaraan listrik. Kekhawatiran konsumen terhadap keterbatasan fasilitas pengisian daya yang selama ini menjadi hambatan adopsi EV mulai berkurang.

Populix mencatat 72% responden sudah tidak terlalu khawatir soal ketersediaan infrastruktur pengisian daya yang mulai merata. Sebanyak 60% responden meyakini nilai jual kembali BEV sudah cukup tinggi.

"Utamanya karena perkembangan teknologi kendaraan listrik yang pesat beberapa tahun terakhir. Tak hanya itu, 72% responden juga sudah tidak terlalu khawatir karena ketersediaan infrastruktur seperti pengisian daya (SPKLU) sudah mulai merata, dan 60% responden meyakini bahwa resale value dari BEV sudah cukup tinggi," kata Susan.

BYD, Hyundai, dan Wuling di Grup Paling Antusias

Hampir tiga perempat responden mengaku tertarik membeli mobil listrik. Sekitar 27% menyatakan sangat ingin memiliki kendaraan listrik, dengan tiga merek paling diminati kelompok ini adalah BYD, Hyundai, dan Wuling.

"Untuk saat ini kami belum melihat ada indikasi bahwa mobil konvensional akan benar-benar ditinggalkan, namun hampir tiga perempat responden mengaku tertarik untuk membeli mobil listrik. Sekitar 27% bahkan mengaku sangat ingin membeli mobil listrik, utamanya dari merek BYD, Hyundai, dan Wuling," ujar Susan.

Kendaraan konvensional masih memiliki basis konsumen setia. Mobil listrik dan hybrid baru membangun daya tarik sebagai alternatif untuk pembelian berikutnya, bukan sebagai pengganti langsung dalam waktu dekat.

"Mobil konvensional saat ini masih mendominasi pasar, meskipun mobil listrik mulai mendapatkan momentum. Satu dari lima responden mengaku tertarik memiliki mobil listrik maupun hybrid, khususnya milenial muda dan Gen Z di rentang usia 25-35 tahun," jelas Susan.

Terkini