Zeze Takahisa Bicara Film Orisinal di Masterclass Tokyo Film Festival

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:41:01 WIB
Sutradara Zeze Takahisa mengisi sesi masterclass Tokyo Talk di Tokyo International Film Festival.

Sutradara Zeze Takahisa mengisi sesi masterclass Tokyo Talk di Tokyo International Film Festival dengan membahas perjalanan kariernya dari film pink hingga film pembuka festival. Sesi berlangsung di Tokyo Midtown Hibiya di hadapan penonton yang memenuhi ruangan, membahas karya awal Zeze serta pertanyaan seputar proyek terbarunya. Ia menegaskan pentingnya film orisinal di tengah industri yang terlalu bergantung pada adaptasi materi sumber.

Perjalanan dari Film Pink ke Layar Utama

Lahir pada 1960 di Prefektur Oita, Zeze bergabung dengan perusahaan produksi film pink pada 1986 sebagai asisten sutradara. Debut penyutradaraannya terjadi pada 1989 lewat "Extracurricular Activity: Rape" yang mengantarkannya meraih Pink Grand Prix Award untuk Sutradara Pendatang Baru.

Bersama Sano Kazuhiro, Sato Toshiki, dan Sato Hisayasu, Zeze dijuluki sebagai "Empat Raja Langit Film Pink". Julukan itu muncul dari sebuah teater pink di Toyama atau Ishikawa yang mengingatkan mereka pada gerakan Nouvelle Vague. "Kami memutuskan memakai label Empat Raja Langit itu untuk keuntungan kami," kata Zeze.

Kebebasan Berkarya Era 1990-an

Film pink kala itu diputar di bioskop khusus penonton pria, dengan keharusan menyisipkan adegan ranjang setiap sepuluh menit. Meski begitu, Zeze menilai era awal 1990-an memberi ruang lebih besar untuk menyuarakan gagasan. "Saya selalu cukup teguh pada keyakinan saya. Sejak awal 1990-an budaya bergeser dan saya punya lebih banyak kebebasan untuk mengatakan apa yang saya mau," ujarnya.

Ketertarikannya pada kisah kriminal perempuan ia jelaskan sederhana. "Itu berbeda dari perspektif pria. Motif di balik kejahatan dan sebagainya. Saya merasa itu memikat," kata Zeze. Ia juga menyebut film 1994 "Genuine Lesbians: Embarrassing Positions" yang versi judul pribadinya "Fallen Angels in September" sebagai cerminan minat anak muda saat itu pada hal-hal mistis dan pencarian koneksi dengan dunia lain.

Dari Horor Remaja hingga Berlin Film Festival

Pada 1997 Zeze debut di ranah film mainstream lewat horor remaja "Kokkuri-san", lalu bergantian menggarap film pink dan mainstream selama satu dekade. Puncaknya datang pada 2010 lewat "Heaven's Story", drama balas dendam berdurasi 278 menit yang tayang di seksi Forum Berlin Film Festival dan meraih FIPRESCI Prize.

"Itu berbeda dari apa yang disebut film biasa. Saya menyadari harus melakukan sesuatu yang lain. Secara pribadi saya merasakan urgensi, atau mungkin krisis, bahwa keadaan tidak berjalan baik, dan itu yang mendorong saya mengambil tantangan ini," tutur Zeze.

Seruan untuk Film Orisinal

Zeze menyoroti kecenderungan industri yang terlalu fokus pada pasar materi sumber. Ia sendiri pernah menggarap film komersial berbasis IP, seperti "64" pada 2016 yang diadaptasi dari novel laris. Namun menurutnya, film yang benar-benar menarik justru lahir dari cerita orisinal.

"Jadi saya merasa mengejar konsep orisinal dan membuat film orisinal sangat penting saat ini. Film-film itu punya kekuatan unik yang memikat," kata Zeze.

Pandangan Zeze menegaskan posisi sutradara veteran Jepang itu sebagai suara yang konsisten memperjuangkan orisinalitas cerita, bahkan ketika tekanan pasar adaptasi semakin besar di industri film Asia maupun global.

Terkini