FISIP Unri Gandeng Tiga Mitra, Kembangkan Living Laboratory Berbasis Kebutuhan Masyarakat

Jumat, 30 Oktober 2026 | 21:17:25 WIB
Dekan FISIP Universitas Riau, Dr Meyzi Heriyanto, S.Sos., M.Si., dan Kepala SMAN 16 Pekanbaru Dr Nurhafni menunjukkan dokumen kerja sama didampingi mitra lainnya dan para dosen FISIP Unri di Ruang Studio Pascasarjana FISIP Unri, Jumat (30/10/2026).

SELARASRIAU.COM, PEKANBARU – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Riau (Unri) mengembangkan program Living Laboratory dengan menggandeng tiga lembaga mitra. Program ini menjadi upaya kampus memperkuat kolaborasi dengan masyarakat melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian yang berangkat dari kebutuhan nyata di lapangan.

Tiga mitra yang dilibatkan dalam pengembangan program tersebut yakni SMAN 16 Pekanbaru, Yayasan Panti Asuhan Al-Akbar Pekanbaru, serta Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Negeri Enam Tanjung, Kabupaten Kampar.

Kolaborasi ini mulai dirumuskan melalui Lokakarya Implementasi Kemitraan dalam Pengembangan Living Laboratory yang digelar Laboratorium Riset dan Pengabdian Komunikasi di Ruang Studio Pascasarjana FISIP Unri, Jumat (30/10/2026).

Melalui program ini, FISIP Unri ingin mengubah pola kemitraan akademik. Masyarakat dan lembaga mitra tidak hanya menjadi objek atau tempat pelaksanaan kegiatan mahasiswa, tetapi ikut menentukan program yang akan dijalankan.

Penanggung Jawab Laboratorium Riset dan Pengabdian Komunikasi, Dr Nova Yohana, M.Ikom, mengatakan Living Laboratory merupakan langkah strategis untuk memastikan kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan di lapangan.

Menurutnya, keterlibatan mitra sejak tahap perencanaan menjadi hal penting agar program yang disusun tidak hanya memenuhi kewajiban akademik, tetapi juga memberikan manfaat nyata.

"Melalui Living Laboratory, kami ingin membangun kemitraan akademik yang tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan pendidikan, penelitian, dan pengabdian, tetapi juga menghadirkan kolaborasi yang nyata. Karena itu, mitra bukan sekadar tempat mahasiswa melaksanakan kegiatan. Mereka harus menjadi bagian dari proses perencanaan agar program yang disusun benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan," jelas Nova.

Ia menyebutkan, ketiga mitra memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, lokakarya menjadi kesempatan untuk menggali potensi kerja sama sekaligus menghimpun masukan dari masing-masing lembaga.

Nova berharap setiap mitra dapat menyampaikan gagasan, kebutuhan, dan persoalan yang bisa dikembangkan menjadi program bersama.

"Kami berharap setiap mitra dapat menyampaikan gagasan, kebutuhan, dan persoalan yang bisa dikembangkan menjadi program bersama. Dengan demikian, kegiatan yang nantinya dilaksanakan tidak sekadar memenuhi kewajiban akademik, tetapi juga memberikan manfaat yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat," tambahnya.

Dekan FISIP Unri, Dr Meyzi Heriyanto, S.Sos, M.Si, menyambut baik pengembangan Living Laboratory sebagai bentuk penguatan peran perguruan tinggi di tengah masyarakat.

Ia menjelaskan, Living Laboratory memiliki konsep berbeda dengan laboratorium konvensional. Program ini membuka ruang bagi sivitas akademika untuk mengintegrasikan pendidikan dan pengabdian melalui kreativitas serta inovasi yang dikembangkan bersama mitra.

"Living Laboratory ini bukan laboratorium konvensional. Kita ingin mengintegrasikan pendidikan dan pengabdian dengan menghadirkan berbagai kreasi bersama mitra. Harapannya, kolaborasi tersebut mampu melahirkan gagasan dan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara," ungkap Meyzi.

Menurutnya, penguatan akademik di lingkungan kampus tidak cukup hanya berorientasi pada proses pembelajaran di ruang kelas. Perguruan tinggi juga harus mampu menghasilkan inovasi, penelitian, dan kegiatan pengabdian yang memberikan dampak nyata.

"Pengembangan akademik harus berjalan seiring dengan kebutuhan masyarakat. Kita ingin pendidikan yang dilaksanakan di kampus tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi juga mampu melahirkan inovasi dan kontribusi nyata melalui penelitian serta pengabdian," ujarnya.

Meyzi juga menekankan pentingnya sinergi antara program studi, laboratorium, dosen, mahasiswa, dan seluruh unsur pendukung. Sinergi tersebut diperlukan agar setiap program dapat berjalan terarah dan berkelanjutan.

Ia mengapresiasi seluruh pihak yang telah terlibat dalam pengembangan Living Laboratory. Ia berharap program tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi berkembang menjadi model kolaborasi akademik yang memberikan manfaat lebih luas.

"Saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah terlibat. Kita berharap Living Laboratory ini tidak hanya menjadi program sesaat, tetapi bisa terus dikembangkan dan menjadi contoh kolaborasi yang berkelanjutan. Pada akhirnya, kita ingin menghasilkan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu memberikan dampak bagi masyarakat," tuturnya.

Sementara itu, Koordinator Program Magister Ilmu Komunikasi Unri, Dr Welly Wirman, S.IP, M.Si, mengatakan lokakarya tersebut menjadi langkah awal untuk merumuskan bentuk kerja sama konkret antara mahasiswa dan masing-masing mitra.

Dalam kegiatan itu, peserta dibagi menjadi tiga kelompok sesuai lembaga mitra yang terlibat. Pembagian kelompok tersebut berkaitan dengan pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang menjadi bagian dari mata kuliah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi.

Melalui diskusi kelompok, mahasiswa bersama mitra mengidentifikasi persoalan, menggali potensi, dan membahas bentuk kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing lembaga.

"Kami membagi peserta menjadi tiga kelompok sesuai dengan mitra yang terlibat. Melalui diskusi ini, kita ingin mengetahui bentuk kerja sama apa yang paling memungkinkan untuk dikembangkan. Jadi, mahasiswa tidak datang dengan program yang ditentukan sendiri, tetapi terlebih dahulu mendengarkan kebutuhan mitra agar kegiatan pengabdian yang dilakukan lebih tepat sasaran," kata Welly.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh mitra yang telah membuka ruang bagi mahasiswa dan sivitas akademika Unri untuk berkolaborasi.

Lokakarya tersebut turut dihadiri Wakil Dekan II FISIP Unri, Dr Mayarni, M.Si, Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi, Dr Rumyeni, M.Sc, serta Kepala Laboratorium, Dr Chelsy Yesicha, M.Ikom.

Melalui Living Laboratory, FISIP Unri berharap hubungan perguruan tinggi dan masyarakat tidak berhenti pada kerja sama formal. 

Keterlibatan mitra sejak tahap perencanaan diharapkan menghasilkan program yang lebih tepat sasaran, memperkuat kapasitas sumber daya manusia, serta menghadirkan kontribusi akademik yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. */(Mira)

Terkini