Proyek film Taiwan berjudul "Uncle" memenangkan Tokyo Project Award pada gelaran Tokyo Gap-Financing Market (TGFM) ketujuh di Tokyo. Film garapan sutradara Yen Hao-hsuan itu juga lebih dulu meraih Asian Gen-Z Award di acara yang sama, bersaing dengan 24 proyek terpilih tahun ini.
Kemenangan ganda ini jadi sinyal kuat bagi proyek yang baru pertama kali masuk pasar film Asia lewat Busan Asian Project Market belum lama ini. Sejumlah penghargaan lain di TGFM diberikan kepada beberapa proyek dari daftar peserta yang sama.
Premis "Uncle": Kisah Pribadi Selama 18 Tahun
"Uncle" adalah debut penyutradaraan Yen Hao-hsuan. Ceritanya berlatar Taiwan pedesaan antara 1997 dan 2000, mengikuti seorang anak lelaki yang pengabdiannya kepada sang paman berubah menjadi rasa malu saat ia tumbuh dewasa dan meninggalkan rumah.
Sang paman digambarkan sebagai pria dengan disabilitas intelektual. Naskahnya bersumber dari pengalaman pribadi Yen yang hidup bersama pamannya selama 18 tahun.
Film ini diproduseri Patrick Mao Huang, pendiri Flash Forward Entertainment, bersama Sung Chin-hsuan. Huang dikenal lewat kreditnya di "Tiger Stripes" yang memenangi Grand Prize Critics' Week di Cannes.
Alasan Juri Memilih "Uncle"
Anggota juri Nam Jongsuk, programmer Bucheon International Fantastic Film Festival sekaligus managing director Network of Asian Fantastic Films (NAFF), menilai proyek ini berani melawan prasangka.
"Proyek ini melihat masyarakat dan dengan berani melawan prasangka, tanpa mempermanis subjeknya," kata Nam. Juri berharap Yen menghasilkan karya yang "tanpa kompromi".
Yen mengaku tak menyangka bisa menang. "Saya akan menganggap ini sebagai energi untuk syuting dan menyelesaikan filmnya," ujarnya.
Asian Gen-Z Award dan Hadiah Uang
Asian Gen-Z Award kini memasuki tahun kedua dengan hadiah JPY500.000 atau sekitar USD3.300. Pemenangnya dipilih komite berisi lima mahasiswa film dari berbagai universitas dan program pascasarjana.
Komite memilih proyek yang dinilai menarik bagi penonton usia 20 sampai 28 tahun. "Di atas semua itu, juri mengakui ini sebagai cerita yang menuntut untuk diceritakan sekarang juga," kata para mahasiswa, seraya menyebut film ini "menolak daya tarik emosional yang simplistis".
Pemenang Lain di TGFM
Produksi bersama Jepang-Kanada "Wild Zero Overdrive" dari Takegei Company Limited meraih White Light Post-Production Award. Hadiahnya berupa layanan pascaproduksi senilai USD25.000 dari studio White Light yang berbasis di Thailand.
Film arahan Takeuchi Tetsuro itu merupakan lanjutan dari film kultusnya pada 1999, "Wild Zero", dan dibintangi band punk Guitar Wolf yang juga tampil di versi aslinya. Tak ada pidato penerimaan, tetapi para pemenang dan pemberi hadiah kompak berseru "rock and roll!" sesuai semangat proyek tersebut.
"Wild Zero Overdrive" masuk Tokyo lewat seleksi fiksi Frontières, bagian dari kemitraan pertama TIFFCOM dengan pasar co-production Fantasia International Film Festival Kanada.
Film Brasil "Nature Boy" arahan Matias Mariani dan produksi Primo Filmes membawa Mellow Tunes Sound Design Award. Hadiahnya berupa layanan desain suara senilai hingga USD10.000 dari Mellow Tunes, Thailand.
Panggung TGFM di TIFFCOM
Upacara penghargaan dipandu managing director TIFFCOM, Ikeda Kaori. Nam duduk di jajaran juri bersama Meiske Taurisia, produser Palari Films, dan Paolo Bertolin, konsultan Venice International Film Festival.
TGFM berjalan sebagai bagian dari TIFFCOM, pasar konten yang menempel pada Tokyo International Film Festival. Ajang ini menjadi ruang temu bagi proyek-proyek Asia yang masih mencari pendanaan dan mitra produksi.
Bagi industri film Asia Tenggara, termasuk Indonesia, kemenangan proyek seperti "Uncle" menegaskan bahwa cerita personal dengan konteks sosial masih punya jalur kuat di pasar pendanaan regional.