Pertamina Hulu Energi Bidik FID Proyek CCS Lintas Batas Pertama di Asia-Pasifik

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 08:03:33 WIB
Direktur Investasi dan Pengembangan Bisnis PHE Dannif Utojo Danusaputro memaparkan strategi CCS lintas batas dalam panel diskusi di Japan CCUS Summit 2026 di Tokyo.

PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menargetkan keputusan investasi akhir atau Final Investment Decision (FID) untuk proyek penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) lintas batas komersial pertama di Asia-Pasifik dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Target itu disampaikan Direktur Investasi dan Pengembangan Bisnis PHE, Dannif Utojo Danusaputro, di ajang Japan CCUS Summit 2026 di Tokyo, Jepang, Senin (19/10/2026). Bagi Indonesia, proyek ini menjadi pintu masuk untuk memanfaatkan potensi penyimpanan geologis yang besar di dekat pusat industri Asia.

Tokyo, Jepang — Komitmen PHE mendukung dekarbonisasi kawasan Asia bukan sekadar pernyataan di atas panggung. Dalam panel diskusi bertajuk "From Partnerships to Projects: Delivering Cross-Border CCS between Japan and Asia", Dannif memaparkan syarat utama agar kerja sama CCS lintas negara bisa berjalan: kepastian dan kepercayaan investasi jangka panjang untuk 20 hingga 30 tahun ke depan.

Menurut Dannif, kapasitas penyimpanan saja tidak cukup. Investor dan industri penghasil emisi di Jepang menilai proyek dari tiga hal mendasar sebelum menanam modal.

"Bagi investor dan industri penghasil emisi di Jepang, kepercayaan dibangun di atas tiga pilar utama, yakni kepastian regulasi untuk mengelola risiko jangka panjang, kejelasan kelembagaan yang terkoordinasi dan transparan dalam pengelolaan perizinan hingga pengawasan lintas batas, serta kelayakan finansial jangka panjang (bankability)," ujar Dannif.

Tiga Pilar yang Menentukan Minat Investor

Pilar pertama adalah kepastian regulasi. Tanpa aturan yang stabil, risiko jangka panjang sulit dikelola. Pilar kedua menyangkut kejelasan kelembagaan, mulai dari perizinan hingga pengawasan lintas batas yang harus terkoordinasi dan transparan.

Pilar ketiga adalah kelayakan finansial atau bankability. Proyek CCS membutuhkan investasi awal besar, sehingga struktur pembiayaan harus masuk akal bagi perbankan dan investor. Ketiga pilar inilah yang menurut PHE menentukan apakah minat investasi berubah menjadi komitmen nyata.

Bukan Transaksi Jual-Beli Kapasitas

Dannif menegaskan, pengembangan CCS lintas batas adalah kemitraan strategis dua arah. PHE sebagai penyedia fasilitas penyimpanan membutuhkan kepastian volume suplai karbondioksida (CO?) jangka panjang, kesiapan proyek penangkapan karbon dari pihak industri, serta komitmen komersial berjangka panjang.

"Proyek CCS lintas batas bukan sekadar transaksi komersial penyimpanan karbon, melainkan sebuah kemitraan strategis jangka panjang. Bagi perusahaan seperti Pertamina, pembangunan hub CCS memerlukan investasi awal yang sangat besar untuk studi karakterisasi, pengeboran sumur, fasilitas injeksi, hingga infrastruktur transportasi," kata dia.

Karena itu, PHE meminta kepastian volume emisi, kesiapan fasilitas penangkapan di sisi industri, dan kontrak kerja sama jangka panjang. Dannif mendorong para pengembang proyek membangun kepercayaan lewat transparansi, mengembangkan infrastruktur berskala hub, berkolaborasi erat dengan pemerintah, serta mengagregasi kemitraan jangka panjang.

Ujian di Proyek Pertama

Tonggak yang dibidik PHE dalam dua hingga tiga tahun ke depan adalah FID proyek CCS lintas batas komersial pertama di Asia-Pasifik, hingga melangkah ke tahap injeksi. Proyek perdana ini akan menjadi pembuktian bagi seluruh rantai proses.

"Jika proyek pertama ini berhasil membuktikan bahwa CO? dapat ditangkap di satu negara, diangkut secara aman melintasi batas negara, dan disimpan secara permanen di bawah kerangka regulasi yang andal, maka pasar akan bergerak cepat dari tahap diskusi menuju replikasi," ujar Dannif.

Keberhasilan itu, lanjutnya, akan memvalidasi kerangka kerja regulasi, model bisnis, solusi teknis, hingga struktur kemitraan. Pasar disebut akan bereplikasi cepat begitu proyek pertama terbukti berjalan.

Selaras dengan Visi AZEC

Kolaborasi ini sejalan dengan visi Asia Zero Emission Community (AZEC). Dalam skema itu, Jepang memperoleh kepastian solusi penyimpanan emisi jangka panjang, sementara Indonesia berpeluang membangun industri baru bernilai tambah yang rendah karbon.

"Bersama pemerintah, kami berkomitmen menjadikan Indonesia sebagai hub CCS regional yang andal dan terpercaya untuk mendukung perjalanan dekarbonisasi di Asia," ujarnya.

PHE menyatakan akan terus berinvestasi dalam pengelolaan operasi dan bisnis hulu migas yang berkelanjutan sesuai prinsip Environmental, Social and Governance (ESG). Perusahaan juga menekankan penguatan budaya kepatuhan, tata kelola yang baik, serta pencegahan fraud.

Bagi industri hulu migas nasional, target FID dalam dua hingga tiga tahun menjadi ukuran konkret: PHE tidak hanya memposisikan Indonesia sebagai pemilik potensi penyimpanan geologis, tetapi juga sebagai pihak yang siap menanggung risiko investasi awal dan membuktikan model bisnis CCS lintas batas di kawasan.

Terkini