Guru PAUD Tana Tidung Dibekali Ilmu Hadapi Kabut Asap dan Perubahan Iklim

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:22:13 WIB
Puluhan guru PAUD di Tana Tidung mengikuti pelatihan kesiapsiagaan menghadapi kabut asap dan perubahan iklim.

Kabupaten Tana Tidung di Kalimantan Utara rutin berhadapan dengan risiko kebakaran lahan gambut yang memicu kabut asap. Puluhan guru PAUD di sana kini disiapkan agar tetap bisa mendampingi anak usia dini saat aktivitas belajar terganggu. Panduan berikut merangkum apa saja bekal yang diberikan dan cara orang tua bisa meniru pendekatannya di rumah.

Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara, menggandeng SEAMEO CECCEP dan Koalisi Nasional PAUD HI untuk menggelar pelatihan bagi guru PAUD. Program digelar sebagai tindak lanjut Forum ECD Asia-Pasifik 2026 yang berlangsung di Jakarta pada 20–22 Oktober 2026.

Tujuannya jelas: mencetak pendidik yang siap menghadapi krisis lingkungan, sekaligus melindungi tumbuh kembang anak dari dampaknya.

Mengapa Guru PAUD Perlu Melek Perubahan Iklim

Tana Tidung menghadapi risiko kebakaran hutan dan lahan gambut. Kabut asap yang muncul bisa memaksa kegiatan sekolah dihentikan sementara demi keselamatan siswa.

Kondisi itu juga menghambat layanan Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI). Layanan ini mencakup pendidikan, kesehatan, gizi, pengasuhan, dan perlindungan anak yang seharusnya berjalan beriringan.

Bunda PAUD Kabupaten Tana Tidung, Vamelia Ibrahim, S.E., M.Pd., menekankan bahwa pengenalan perubahan iklim tidak perlu rumit.

"Guru PAUD perlu memiliki bekal untuk mengenalkan perubahan iklim kepada anak dengan cara yang sederhana dan sesuai usia mereka. Pembelajaran dapat dilakukan lewat permainan, kegiatan di alam, serta kebiasaan sehari-hari yang membantu anak memahami lingkungan di sekitarnya," ujar Vamelia.

Tiga Bekal Utama untuk Para Pendidik

Pelatihan bersama SEAMEO CECCEP dan Koalisi Nasional PAUD HI menyiapkan tiga bidang kemampuan. Pertama, pengembangan kurikulum kontekstual berbasis permainan dan alam.

Kedua, penguatan keterampilan sosial-emosional atau social-emotional learning (SEL). Materi ini membekali guru mendampingi anak saat menghadapi bencana.

Ketiga, peningkatan kolaborasi lintas sektor. Harapannya, layanan pendidikan dan perlindungan anak bisa saling menopang, bukan berjalan sendiri-sendiri.

Saat Aktivitas Berubah, Rasa Aman Anak Tetap Prioritas

Menurut Vamelia, kesiapan menghadapi kabut asap harus mencakup kemampuan guru memberi pendampingan emosional. Anak tetap butuh rasa aman, interaksi yang mendukung perkembangan, dan penjelasan yang tidak menakutkan.

"Dalam situasi darurat, anak membutuhkan pendampingan yang tepat agar mereka tetap merasa aman. Guru harus mampu mengenali kondisi emosional anak dan memberikan dukungan sesuai kebutuhan mereka, sehingga proses tumbuh kembang tetap mendapat perhatian meskipun aktivitas belajar mengalami perubahan," katanya.

Kerangka RAMAH untuk Pembelajaran Kontekstual

Penerapan pendidikan perubahan iklim di Tana Tidung memakai kerangka RAMAH. Isinya: Relevan dengan kondisi daerah, menyentuh aspek afektif anak, Merujuk pada ilmu pengetahuan dan kearifan lokal, berorientasi pada Aksi nyata, serta dilaksanakan secara Holistik.

Kerangka ini menghubungkan pengetahuan ilmiah dengan pengalaman sehari-hari anak. Caranya lewat kegiatan yang sesuai tahap perkembangan mereka, bukan ceramah yang membingungkan.

"Pendidikan perubahan iklim harus dekat dengan kehidupan anak. Mereka bisa diajak mengenali lingkungan, memahami perubahan yang terjadi di sekitarnya, dan belajar melakukan tindakan sederhana untuk menjaga alam. Pendekatan seperti ini membuat materi lebih mudah dipahami sekaligus memberi pengalaman belajar yang bermakna," tutur Vamelia.

Yang Bisa Ibu Tiru di Rumah

Pendekatan yang dipakai di Tana Tidung sebenarnya bisa diadaptasi orang tua. Mulai dari mengajak anak mengamati cuaca dan lingkungan sekitar, lalu menjelaskan dengan bahasa sederhana.

Saat kualitas udara memburuk dan anak harus bermain di dalam rumah, beri penjelasan singkat tanpa menakut-nakuti. Jaga rutinitas tidur, makan, dan bermain agar anak tetap merasa aman.

Libatkan anak dalam aksi kecil, misalnya memilah sampah atau menyiram tanaman. Pengalaman langsung seperti ini lebih mudah diingat anak usia dini dibanding penjelasan panjang.

Kapan Perlu Berhati-hati

Saat kabut asap pekat, batasi aktivitas luar ruang dan pantau tanda gangguan pernapasan pada anak seperti batuk atau sesak. Segera konsultasi ke fasilitas kesehatan bila keluhan berlanjut.

Perubahan perilaku anak, seperti mudah rewel atau sulit tidur saat rutinitas terganggu, juga perlu diperhatikan. Pendampingan tenang dari orang dewasa di sekitarnya membantu anak melewati masa itu.

Vamelia menegaskan bahwa upaya ini diarahkan agar anak tetap memperoleh hak belajar, bermain, dan tumbuh di lingkungan yang aman, termasuk saat menghadapi risiko bencana.

"Anak-anak harus tetap mendapatkan kesempatan untuk belajar dan berkembang dalam kondisi apa pun. Guru yang lebih siap, pembelajaran yang sesuai dengan lingkungan, serta dukungan lintas sektor, kami berharap kebutuhan anak tetap terpenuhi dan mereka tumbuh dengan pemahaman yang baik tentang keselamatan serta pentingnya menjaga alam," tandasnya.

Membekali guru dengan keterampilan menghadapi perubahan iklim adalah investasi jangka panjang. Anak belajar bahwa alam perlu dijaga, dan bahwa dirinya tetap aman meski keadaan di sekitar berubah.

Terkini