PEKANBARU — Kualitas udara di Kota Pekanbaru kembali memburuk pada Senin (5/10/2026) sore.
Data terbaru Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru menunjukkan konsentrasi partikulat halus PM2.5 mencapai 113 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 16.00 WIB.
Angka tersebut membuat kualitas udara Pekanbaru berada dalam kategori Tidak Sehat.
Kondisi sore ini juga lebih buruk dibandingkan pemantauan pada Senin pagi.
Pada pukul 08.00 WIB, konsentrasi PM2.5 di Pekanbaru masih tercatat 88,5 µg/m³.
Forecaster On Duty BMKG Riau, Ranti Kurniati, sebelumnya mengatakan konsentrasi PM2.5 sejak tengah malam hingga pukul 08.00 WIB berada pada kisaran 56,4 hingga 101,7 µg/m³.
"Berdasarkan pemantauan kualitas udara, konsentrasi PM2.5 di Pekanbaru sejak pukul 00.00 hingga 08.00 WIB berada pada rentang 56,4 hingga 101,7 µg/m³. Kondisi tersebut menunjukkan paparan partikulat di udara masih cukup tinggi pada pagi hari," kata Ranti, dikutip dari Media Center Riau.
Memasuki siang, kualitas udara belum menunjukkan perbaikan.
Data BMKG pada pukul 12.00 WIB mencatat PM2.5 Pekanbaru berada di angka 106,3 µg/m³.
Empat jam kemudian, angkanya meningkat menjadi 113 µg/m³.
BMKG mengimbau masyarakat mengurangi kegiatan di luar ruangan.
Anak-anak, lanjut usia serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan juga dianjurkan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar rumah.
Riau Nihil Karhutla, Asap Diduga Kiriman
Menariknya, memburuknya kualitas udara Pekanbaru terjadi ketika kebakaran hutan dan lahan aktif di Riau dilaporkan sudah nihil.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran Riau M Edy Afrizal mengatakan titik karhutla yang sebelumnya masih ditangani sudah padam.
"Riau saat ini sudah nihil Karhutla. Hujan juga sudah hampir merata terjadi di wilayah Riau," kata Edy, Senin.
Data BMKG pada Senin pagi juga menunjukkan tidak terdapat hotspot di Provinsi Riau berdasarkan pantauan satelit MODIS, SNPP dan NOAA20.
Meski demikian, kabut asap masih terlihat di sejumlah daerah.
Edy menduga kondisi tersebut dipengaruhi asap yang terbawa dari wilayah lain di Sumatera.
"Asap kiriman, karena di Riau nihil titik api. Sementara di Sumsel banyak dilaporkan titik api," ujarnya.
Pada pemantauan sebelumnya, BMKG mencatat ribuan titik panas tersebar di Pulau Sumatera.
Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan jumlah hotspot paling banyak.
Karena itu, BPBD Riau tetap menyiagakan personel meski kebakaran aktif di dalam wilayah Riau sudah tidak ditemukan.
Pemantauan juga terus dilakukan di daerah rawan, terutama kawasan gambut yang mudah kembali terbakar ketika kondisi kering.
IQAir Juga Catat Udara Pekanbaru Tidak Sehat
Kondisi udara yang buruk juga terlihat dalam pemantauan platform kualitas udara IQAir.
Data IQAir pada Senin pagi menempatkan Pekanbaru dalam kategori Tidak Sehat dengan AQI+ US 152.
Konsentrasi PM2.5 yang terbaca pada jaringan tersebut berada di kisaran 56,5 µg/m³.
Perbedaan angka antara IQAir dan BMKG dapat terjadi karena waktu pengukuran, titik sensor, serta metode penyajian indeks yang digunakan berbeda.
Namun keduanya sama-sama menunjukkan konsentrasi PM2.5 di Pekanbaru berada pada tingkat yang perlu diwaspadai.
PM2.5 sendiri merupakan partikel berukuran sangat kecil dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil.
Ukurannya yang sangat halus membuat partikel ini dapat terhirup dan masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.
Warga Diminta Kurangi Aktivitas di Luar
Kementerian Kesehatan mengingatkan paparan PM2.5 dari asap kebakaran dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
Kelompok yang lebih rentan antara lain anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, penderita asma serta masyarakat yang memiliki penyakit paru.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya mengimbau masyarakat di daerah yang terdampak asap karhutla menggunakan masker ketika kualitas udara memburuk dan mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Kemenkes juga merekomendasikan masyarakat rutin memeriksa kualitas udara sebelum beraktivitas.
Saat tingkat polusi tinggi, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar rumah, menghindari sumber asap, menggunakan masker yang mampu menyaring partikel halus, serta segera memeriksakan diri jika mengalami keluhan pernapasan.
BMKG sendiri menyampaikan peringatan serupa pada laman pemantauan kualitas udara Pekanbaru.
"Kurangi kegiatan di luar ruangan. Anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan sebaiknya memakai masker," demikian imbauan BMKG.
Hujan Berpeluang Turun Malam Ini
Di tengah kondisi tersebut, hujan masih berpeluang turun di sejumlah wilayah Riau.
BMKG memprakirakan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang dapat terjadi di hampir seluruh wilayah Riau pada sore hingga malam hari.
Kondisi udara pada periode tersebut juga masih berpotensi mengalami kekaburan akibat asap.
Untuk kawasan Pelabuhan Pekanbaru, BMKG memprakirakan kondisi udara kabur masih dapat terjadi hingga malam hari dengan jarak pandang sekitar lima kilometer.
Masyarakat karena itu tetap diminta memantau perkembangan kualitas udara secara berkala.
Meski karhutla aktif di Riau saat ini dilaporkan nihil, kualitas udara Pekanbaru pada Senin sore menunjukkan paparan partikulat masih tinggi.
Kondisi dapat berubah mengikuti arah angin, cuaca, hujan serta pergerakan asap dari wilayah lain.
Bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan, penggunaan masker dan membatasi paparan dalam waktu lama menjadi langkah yang dianjurkan. (*)