Antisipasi Kondisi Darurat di Jembatan dan Lereng Curam, HKA Latih Petugas Tol KUTEPAT Vertical Rescue

Jumat, 25 September 2026 | 09:19:23 WIB

SIMALUNGUN – Kondisi Jalan Tol Kuala Tanjung–Tebing Tinggi–Parapat (KUTEPAT) yang melintasi kawasan perbukitan, lereng curam hingga jembatan tinggi membutuhkan kesiapan penanganan darurat yang berbeda.

Mengantisipasi kemungkinan kecelakaan atau kondisi darurat di lokasi yang sulit dijangkau, PT Hakaaston (HKA) membekali petugas layanan operasi dengan kemampuan vertical rescue atau penyelamatan korban di medan vertikal.

Pelatihan tersebut dilakukan bersama Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Sumatera Utara melalui Kantor Pencarian dan Pertolongan Medan. Puncak pelatihan berupa simulasi vertical rescue digelar di kawasan Sinaksak, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026).

Atas kegiatan tersebut, HKA yang menjadi operator layanan operasi Tol KUTEPAT menerima piagam penghargaan dari Basarnas Sumatera Utara.

Dalam piagam penghargaan itu, HKA disebut sebagai mitra operator jalan tol pertama yang menghadirkan terobosan simulasi vertical rescue di Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).

Simulasi ini dinilai penting karena karakter geografis Tol KUTEPAT berbeda dengan ruas tol yang seluruhnya berada di kawasan relatif datar.

Di sejumlah titik terdapat lereng curam dan jembatan tinggi. Kondisi tersebut membuat proses penyelamatan korban dalam keadaan darurat tidak selalu bisa dilakukan hanya dari badan jalan.

Dalam situasi tertentu, petugas harus mampu menjangkau korban yang berada di bawah jembatan maupun lereng di sisi jalan tol yang sulit diakses.

Melalui pelatihan bersama Basarnas, petugas HKA dibekali teknik penyelamatan di medan ekstrem, mulai dari cara menurunkan dan menarik korban dari ketinggian menggunakan sistem tali hingga mengamankan korban di atas tandu selama proses evakuasi.

Petugas juga mendapat pelatihan penggunaan peralatan penyelamatan secara aman, termasuk teknik evakuasi korban melalui medan vertikal dan lereng.

Selain kemampuan teknis, pelatihan menekankan pentingnya memanfaatkan golden time, yakni rentang waktu kritis dalam penanganan korban yang dapat menentukan keselamatan dan peluang korban untuk tertolong.

Kemampuan tersebut kemudian diuji melalui simulasi langsung di lapangan.

Petugas melakukan evakuasi fisik korban dari area ketinggian, termasuk struktur jembatan dan lereng di sisi jalan tol. Simulasi dilakukan agar petugas terbiasa menghadapi kondisi sebenarnya sehingga proses pertolongan dapat dilakukan dengan cepat, tepat dan aman.

Direktur Operasi HKA, Aminudin Azis mengatakan, setiap ruas jalan tol memiliki karakter dan tantangan penanganan darurat masing-masing.

Menurutnya, kondisi geografis Tol KUTEPAT membuat petugas tidak cukup hanya memiliki kemampuan penanganan kecelakaan di badan jalan.

“Setiap ruas memiliki tantangannya sendiri. Di KUTEPAT, kami tidak bisa hanya bersiap untuk kejadian di badan jalan, tetapi juga untuk kondisi darurat di titik-titik yang sulit dijangkau,” ujar Azis.

Karena itu, lanjutnya, petugas layanan operasi perlu memiliki kemampuan khusus untuk melakukan pertolongan di medan ketinggian.

“Karena itu, kami membekali petugas dengan kemampuan pertolongan di ketinggian bersama Basarnas, agar ketika situasi itu terjadi, mereka sudah siap dan tahu apa yang harus dilakukan,” katanya.

Pelatihan dan simulasi tersebut juga mendapat dukungan dari PT Hutama Marga Waskita (Hamawas) selaku Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) Ruas KUTEPAT.

Sinergi antara Hamawas sebagai pemegang konsesi dengan HKA sebagai operator layanan operasi diharapkan dapat terus meningkatkan standar keselamatan dan kesiapsiagaan penanganan kondisi darurat di ruas tersebut.

Azis mengatakan, penghargaan yang diberikan Basarnas menjadi dorongan bagi HKA untuk terus meningkatkan kompetensi petugas.

“Apresiasi dari Basarnas ini kami maknai sebagai dorongan untuk terus meningkatkan kesiapan petugas. Capaian ini juga tidak lepas dari dukungan Hamawas yang memiliki komitmen yang sama terhadap keselamatan pengguna jalan,” ujarnya.

Menurut dia, keamanan dan keselamatan pengguna menjadi bagian utama dari layanan operasi jalan tol.

“Bagi kami, rasa aman pengguna jalan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari layanan operasi,” tambah Azis.

Pelatihan vertical rescue tersebut juga menjadi bagian dari penerapan nilai Disiplin, Melayani dan Selamat (DMS) yang menjadi ikrar insan HKA.

Kesiapan menghadapi kondisi darurat di medan sulit diharapkan membuat layanan operasi tidak hanya mampu menjaga kelancaran lalu lintas, tetapi juga memberikan perlindungan kepada pengguna jalan ketika terjadi situasi darurat.

Ke depan, HKA akan terus meningkatkan kompetensi petugas melalui pelatihan berkala serta kolaborasi dengan BUJT dan berbagai instansi terkait.

Saat ini HKA dipercaya mengelola operasional 14 seksi jalan tol dengan total panjang mencapai 831,85 kilometer milik BUJT PT Hutama Karya (Persero) dan PT Hutama Marga Waskita, serta menangani sejumlah proyek pemeliharaan infrastruktur di Sumatera dan Jawa. (*)

Terkini