Prabowo Pecat Purbaya, Setoran Danantara Rp120 Triliun Jadi Sorotan Utama

Selasa, 15 September 2026 | 08:27:01 WIB
Presiden Prabowo didampingi sejumlah menteri dalam rapat kabinet di Istana Negara.

Perbedaan Pandangan Soal Dana Danantara

Pemecatan tersebut diduga bukan tanpa alasan teknis yang krusial. Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, menilai akar masalahnya terletak pada tarik-ulur internal pemerintah soal kewajiban setoran dana Danantara. Rencana awal menarik ratusan triliun rupiah untuk menambal defisit fiskal ternyata tidak berjalan mulus di level eksekusi.

Ketidaksesuaian pandangan antara Istana dan Kementerian Keuangan dalam mengelola likuiditas negara ini dianggap menjadi pemicu utama kemarahan Presiden. Akibatnya, reshuffle dilakukan secara mendadak tanpa banyak manuver politik sebelumnya.

Kinerja Penerimaan Negara Tidak Memenuhi Target

Selain isu Danantara, faktor lain yang mempercepat langkah Prabowo adalah stagnasi kinerja penerimaan negara. Di tengah tekanan stabilitas ekonomi nasional, pengelolaan fiskal di bawah kepemimpinan Purbaya dinilai gagal memenuhi target yang diharapkan Istana.

"Dua hal itu bisa saja membuat Prabowo tak berkenan, bahkan marah. Akibatnya, Prabowo terkesan melakukan reshuffle mendadak," kata Jamiluddin kepada wartawan, Selasa (15/9/2026).

Reshuffle Dinilai Hanya Tambal Sulam

Ironisnya, langkah pencopotan ini justru menuai kritik karena dianggap tidak menyentuh substansi permasalahan kabinet. Publik merasa kecewa karena Purbaya selama ini dikenal memiliki kinerja yang cukup solid dibandingkan rekan-rekannya di bidang ekonomi lainnya.

Jamiluddin menyebut bahwa bongkar pasang formasi Kabinet Merah Putih kali ini gagal memenuhi harapan masyarakat. Alih-alih membersihkan menteri dengan kinerja melempem, Presiden justru memilih mengganti sosok yang dianggap kompeten.

"Jadi, reshuffle yang dilakukan Prabowo tampaknya belum menyentuh substansi persoalan kabinetnya. Kesannya hanya tambal sulam," ujarnya.

Desakan Copot Bahlil dan Zulkifli Hasan

Menurut analisis tersebut, masih banyak pos strategis yang seharusnya menjadi prioritas evaluasi, terutama di sektor energi dan pangan. Kinerja Menteri ESDM Bahlil Lahadalia serta Menko Pangan Zulkifli Hasan disebut-sebut jauh lebih amburadul dibandingkan Purbaya.

Publik, lanjut Jamiluddin, sebenarnya sudah lama mengharapkan perombakan besar-besaran pada kementerian ekonomi. Namun, keputusan untuk hanya menyasar Menteri Keuangan dianggap sebagai kesempatan yang terbuang sia-sia.

"Karena itu, publik memang sudah mengharapkan Prabowo me-reshuffle menterinya. Namun sayangnya reshuffle hanya untuk Menteri Keuangan. Padahal masih banyak menteri bidang ekonomi yang layak di-reshuffle, seperti Menteri ESDM Bahlil dan Menko Pangan Zulkifli Hasan," pungkasnya.

Cerminan Ketidakpuasan Fiskal

Pencopotan mendadak ini menegaskan betapa sensitifnya posisi fiskal bagi pemerintahan Prabowo saat ini. Angka Rp120 triliun dari Danantara bukan sekadar statistik, melainkan nyawa bagi anggaran negara yang sedang tertekan. Kegagalan harmonisasi kebijakan antar-lembaga akhirnya berujung pada kursi kekuasaan yang hilang.

Terkini