Dokumentasi viral dari Daycare Little Aresha di Jogja menunjukkan anak-anak korban menirukan aksi mengikat mainan hingga tubuh sendiri saat bermain di rumah. Kenali bentuk trauma pada balita, langkah pemulihan, dan kapan harus ke psikolog anak.
Sejumlah orangtua korban Daycare Little Aresha di Jogja mendapati anak mereka mengikat mainan atau anggota tubuh sendiri memakai tisu basah dan tali saat bermain di rumah. Perilaku itu muncul setelah anak-anak menjalani pengasuhan yang diduga tidak layak di tempat penitipan tersebut.
Dokumentasi perilaku ini dibagikan lewat Threads dan Instagram, lalu menyebar cepat di media sosial. Bagi ibu yang anaknya pernah atau sedang dititipkan di daycare, kejadian ini jadi pengingat penting untuk jeli membaca perubahan perilaku si Kecil.
Kronologi Kasus Daycare Little Aresha
Salah satu orangtua korban membagikan potret anaknya yang sedang bermain di rumah, tetapi memperlihatkan gestur mengikat mainan hingga bagian tubuh sendiri. Ucapan polos si Kecil ikut terekam, "Kalau adek nakal ditali aja mama".
Kalimat itu menunjukkan memori anak usia dini terekam sangat jelas dan berdampak langsung pada alam bawah sadar mereka. Sejumlah orangtua lain langsung membuang benda-benda pemicu di rumah agar anak tidak mengulang memori buruk tersebut.
Tanda Trauma pada Anak Korban Kekerasan
Anak yang mengalami kekerasan hampir selalu membawa trauma, dan sering memproses emosinya lewat tindakan yang meniru kejadian traumatis. Ia bisa jadi lebih penakut, cemas berlebih, atau merasa tidak aman saat berada di lingkungan baru maupun saat ditinggal orangtuanya.
Perhatikan juga ucapan yang tidak biasa dan merujuk pada hukuman fisik atau pengikatan. Respons tubuh seperti sulit tidur, mimpi buruk, atau rewel tanpa sebab jelas bisa jadi sinyal trauma psikologis pada balita.
Trauma juga membuat anak lebih tertutup atau kehilangan keceriaan khas usianya. Bayang-bayang ketakutan dari pengalaman pengasuhan yang salah bisa terus membekas kalau tidak ditangani.
Langkah Pemulihan dan Terapi untuk Anak
Anak yang mengalami trauma mendalam sebaiknya segera berkonsultasi dengan psikolog anak. Penanganan yang tepat akan disesuaikan dengan tingkat usia dan kondisi si Kecil.
Orangtua perlu memberi rasa aman secara konsisten agar anak yakin rumah adalah tempat paling terlindung dari segala ancaman. Dengarkan setiap cerita atau ungkapan polosnya tanpa menghakimi, dan berikan pelukan hangat untuk menenangkan emosinya.
Mama dan Papa juga bisa mengajak anak melakukan permainan sensorik atau kegiatan seni yang menyenangkan. Aktivitas ini membantu mengalihkan memori bawah sadar mereka dari hal-hal yang menakutkan.
Proses pemulihan trauma pada anak butuh waktu yang tidak sebentar. Dukungan penuh dan kasih sayang dari orangtua jadi kunci utama pemulihannya.
Dampak Jangka Panjang pada Tumbuh Kembang Anak
Anak korban kekerasan berisiko kesulitan membangun relasi pertemanan yang sehat karena rasa percaya kepada orang lain sudah rusak. Trauma kronis juga dapat memengaruhi fungsi kognitif, sehingga anak lebih sulit fokus saat belajar atau menyerap informasi baru.
Anak mungkin kembali menunjukkan perilaku yang tidak sesuai usianya, seperti mengompol lagi, mengisap jempol, atau menjadi sangat bergantung pada orangtua. Rasa cemas berlebih pun bisa terus terbawa.
Kapan Harus ke Psikolog Anak
Segera cari bantuan profesional jika anak menunjukkan mimpi buruk berulang, menolak sekolah atau daycare tanpa alasan jelas, atau mengucapkan kalimat tentang hukuman fisik. Perubahan perilaku yang menetap lebih dari beberapa pekan juga perlu perhatian serius.
Jangan menunggu gejala memburuk. Konsultasi lebih awal membantu anak mendapat penanganan sesuai kebutuhannya, sekaligus memberi ibu pegangan jelas dalam mendampingi proses pemulihannya.
Yang terpenting, anak perlu tahu bahwa rumah adalah tempat paling aman baginya. Kehadiran dan kasih sayang orangtua yang konsisten akan membantu si Kecil pulih dan kembali ceria.