Ilmuwan Temukan Kuburan Paus Terbesar di Kedalaman 7.000 Meter Samudra Hindia

Ilmuwan Temukan Kuburan Paus Terbesar di Kedalaman 7.000 Meter Samudra Hindia
Kapal selam Fendouzhe menemukan akumulasi fosil paus terbesar dan terdalam di Zona Fraktur Diamantina, Samudra Hindia.

Ekspedisi kapal selam Fendouzhe menemukan kuburan paus terbesar dan terdalam di Zona Fraktur Diamantina, Samudra Hindia tenggara, dengan perkiraan lebih dari 10 juta sisa paus tersebar di area sepanjang 1.200 kilometer. Penelitian yang dipimpin Chinese Academy of Sciences ini mengidentifikasi 43 fosil, termasuk genus punah Pterocetus dan spesies baru Pterocetus diamantinae, dari 32 penyelaman antara Februari hingga Maret 2023. Temuan ini membuka jendela baru bagi pemahaman evolusi paus paruh yang selama ini jarang teramati.

Zona Fraktur Diamantina di barat daya Australia menyimpan nekropolis bawah laut yang belum pernah terdokumentasi sebelumnya. Para peneliti dari Chinese Academy of Sciences mengidentifikasi akumulasi fosil paus terbesar dan terdalam yang pernah tercatat, dengan kepadatan mencapai 760 sisa per kilometer persegi di beberapa area.

Lokasi dan Kondisi Ekstrem Zona Diamantina

Zona Fraktur Diamantina terbentuk antara 30 hingga 40 juta tahun lalu saat Australia dan Antartika terpisah. Kedalamannya berkisar 5.000 hingga 7.000 meter, menjadikannya salah satu lingkungan laut paling sulit diakses untuk penelitian.

Bentuk topografi zona yang menyerupai huruf V berfungsi seperti corong yang menyalurkan bangkai paus ke dasar laut. Minimnya pergerakan sedimen di kedalaman tersebut membuat tulang-tulang tetap terekspos dan dapat diamati langsung oleh para peneliti.

Metode Penelitian dan Temuan Fosil

Tim peneliti menggunakan kapal penelitian Tan Suo Yi Hao dan kapal selam Fendouzhe, kendaraan yang sebelumnya dipakai menjelajahi Palung Mariana pada 2020. Mereka melakukan 32 penyelaman antara Februari hingga Maret 2023 untuk memetakan dan mengumpulkan sampel dari lokasi tersebut.

Lengan robotik kapal selam mengangkut 43 fosil beserta beberapa hewan pemakan bangkai yang masih menempel pada bangkai paus modern. Salah satu bangkai teridentifikasi sebagai paus minke (Balaenoptera acutorostrata) berukuran sekitar 3 meter.

Sisa spesies modern lainnya, paus paruh Andrew (Mesoplodon bowdoini), ditemukan tergeletak berdekatan dengan fosil genus yang sudah punah bernama Pterocetus. Fosil tertua yang berhasil diidentifikasi, Pterocetus benguelae, berusia sekitar 5,3 juta tahun.

Paus Paruh dan Misteri Evolusinya

Sebagian besar sisa-sisa di kuburan tersebut milik paus paruh, kelompok mamalia laut yang tengkoraknya meruncing menyerupai moncong lumba-lumba. Paus ini menyelam sangat dalam dan hanya menghabiskan sedikit waktu di dekat permukaan, sehingga jarang terlihat dan minim data penelitian.

Peneliti juga menemukan sebagian tengkorak milik spesies yang sebelumnya tidak diketahui. Spesies baru tersebut dinamai Pterocetus diamantinae.

Whale Fall dan Ekosistem Laut Dalam

Bangkai paus yang tenggelam ke dasar laut, dikenal sebagai whale fall, menjadi sumber nutrisi bagi beragam komunitas kehidupan laut dalam. Cacing pemakan tulang termasuk organisme yang bergantung pada bangkai ini untuk bertahan hidup.

Seiring waktu, mineral laut dalam membentuk kerak pada tulang-tulang dan mengawetkannya sebagai fosil. Proses ini menjelaskan bagaimana akumulasi sisa paus dapat bertahan selama jutaan tahun di dasar laut.

Implikasi bagi Penelitian Laut Dalam

Penemuan ini menunjukkan bahwa dasar laut masih menyimpan banyak informasi yang belum terungkap tentang evolusi dan ekologi mamalia laut. Perkiraan lebih dari 10 juta sisa paus di zona tersebut kemungkinan masih bertambah karena banyak tulang yang terkubur di bawah sedimen.

Program Eksplorasi Palung Hadal Global yang menaungi ekspedisi ini berencana melanjutkan penelitian di area serupa di belahan dunia lain. Data dari Zona Diamantina diharapkan memperkaya pemahaman tentang bagaimana kehidupan laut dalam beradaptasi dengan lingkungan ekstrem selama jutaan tahun.

Berita Lainnya

Index