PEKANBARU – Polemik bantuan infak miliaran rupiah untuk pembangunan Jembatan Merah Putih Presisi di Riau akhirnya berujung pada langkah mengejutkan. Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Riau resmi menarik diri dan membatalkan kontribusi senilai Rp 3 miliar yang sebelumnya sempat diserahkan secara simbolis.
Keputusan ini diambil setelah derasnya sorotan publik terhadap penggunaan dana infak masyarakat untuk proyek pembangunan tersebut. Ketua Baznas Riau, Masriadi Hasan, mengakui bahwa dinamika yang berkembang memaksa pihaknya melakukan evaluasi serius.
“Dengan dinamika yang berkembang sekarang, Baznas mengevaluasi kembali keikutsertaan dalam program ini,” ujar Masriadi, Kamis (19/3/2026).
Awalnya, keterlibatan Baznas dalam proyek ini bukan tanpa alasan. Pembangunan jembatan yang digagas pemerintah pusat itu dinilai memiliki dampak besar bagi masyarakat, khususnya di wilayah terisolir dan tertinggal. Bahkan, program ini disebut sebagai bagian dari skema kolaborasi nasional atau pentahelix yang melibatkan berbagai unsur, termasuk lembaga non-struktural seperti Baznas.
Masriadi menegaskan, keputusan untuk ikut serta kala itu juga dilandasi niat mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan akses ekonomi masyarakat.
“Ini program pemerintah yang memiliki manfaat besar. Baznas merasa perlu ambil bagian, tentu dengan tetap mempertimbangkan regulasi dan syariat,” jelasnya.
Dana yang sempat menuai polemik tersebut diketahui berasal dari infak masyarakat Riau yang dihimpun melalui Baznas. Menurut Masriadi, secara syariat, infak memiliki sifat fleksibel dan dapat digunakan untuk kepentingan umum, termasuk pembangunan fasilitas sosial seperti jembatan.
Tak hanya itu, Baznas juga mengklaim telah melakukan kajian mendalam sebelum memutuskan terlibat. Mulai dari kondisi sosial masyarakat hingga dampak ekonomi yang akan ditimbulkan.
“Kami memastikan proyek ini berada di kawasan mayoritas masyarakat miskin dan mayoritas muslim. Itu menjadi pertimbangan utama kami dari sisi syariat,” ungkapnya.
Namun, tekanan opini publik tampaknya menjadi faktor penentu. Di tengah pro dan kontra yang terus bergulir, Baznas memilih mengambil langkah mundur demi menjaga kepercayaan masyarakat.
“Dalam pendekatan agama, menghindari mudarat itu lebih diutamakan daripada mengambil maslahat. Kami tidak ingin merusak kepercayaan masyarakat,” tegas Masriadi.
Dengan keputusan ini, Baznas Riau resmi membatalkan penyertaan kontribusi pada proyek Jembatan Merah Putih Presisi. Langkah ini sekaligus menandai babak baru polemik penggunaan dana umat untuk proyek pembangunan, yang kini masih menyisakan tanda tanya di tengah masyarakat. (***)