Menkeu Suahasil Peringatkan Beban APBN Naik Saat 12% Penduduk Masuki Usia 60 Tahun

Rabu, 14 Oktober 2026 | 09:03:32 WIB
Menteri Keuangan Suahasil Nazara memperingatkan beban APBN meningkat seiring 12% penduduk Indonesia kini berusia 60 tahun ke atas.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara memperingatkan bahwa 12% penduduk Indonesia kini berusia 60 tahun ke atas dan hampir 8% berusia 65 tahun ke atas, sebuah tren penuaan yang berpotensi membebani APBN dalam dua dekade mendatang. Pemerintah menilai kualitas SDM, bukan jumlah penduduk, menjadi kunci agar Indonesia tetap mampu menopang pertumbuhan ekonomi dan menjaga keberlanjutan fiskal.

Peringatan itu disampaikan Suahasil dalam World Bank Group Closed-Door Ministerial Roundtable bertema Transforming Demographic Transition into Human Capital Gains and Job Creation di Bangkok, Thailand. Dalam forum tersebut, ia memaparkan proyeksi bahwa jumlah penduduk Indonesia yang saat ini sekitar 284 juta jiwa akan meningkat menjadi 325 juta jiwa dalam 20 tahun mendatang.

Kualitas Penduduk Jadi Penentu, Bukan Jumlahnya

Menurut Suahasil, tantangan demografi Indonesia ke depan bukan sekadar bertambahnya jumlah penduduk. Yang lebih menentukan adalah kemampuan negara meningkatkan kualitas dan produktivitas masyarakat agar tetap mampu menopang pertumbuhan ekonomi di tengah perubahan struktur usia penduduk.

"Persoalannya bukan pada jumlah penduduk, melainkan kualitas penduduk. Kita tidak bisa hanya berharap kualitas tersebut akan meningkat dengan sendirinya. Kita harus berinvestasi untuk meningkatkannya," ungkap Suahasil dalam keterangan resminya.

Pemerintah perlu mengantisipasi perubahan struktur demografi sejak dini. Apabila peningkatan usia penduduk tidak diimbangi dengan kualitas SDM dan produktivitas yang memadai, kebutuhan belanja negara berpotensi meningkat di tengah tekanan terhadap penerimaan negara.

Bonus Demografi Kedua dan Taruhan Jangka Panjang

Suahasil menekankan bahwa investasi pada kualitas manusia harus dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari sebelum kelahiran, masa kanak-kanak, pendidikan, hingga seseorang memasuki dunia kerja. Upaya itu diperlukan agar Indonesia tidak sekadar menikmati bonus demografi saat ini, tetapi juga mampu memperoleh manfaat dari bonus demografi kedua atau silver dividend ketika proporsi penduduk lanjut usia semakin besar.

"Untuk memperoleh manfaat bonus demografi kedua (silver dividend), kita harus berinvestasi pada kualitas SDM jauh sebelum seseorang memasuki usia lanjut, bahkan sejak sebelum kelahiran, masa anak-anak, pendidikan, hingga memasuki dunia kerja," ujarnya.

Prioritas Belanja di Tengah Anggaran Terbatas

Suahasil menyadari bahwa manfaat investasi SDM umumnya baru dapat dirasakan dalam jangka panjang. Sementara itu, pemerintah tetap harus memenuhi berbagai kebutuhan pembangunan dan pelayanan publik saat ini dengan anggaran yang terbatas.

Karena itu, ia menilai pemerintah perlu menetapkan prioritas belanja secara cermat. Keseimbangan antara kebutuhan jangka pendek dan investasi yang menentukan kualitas tenaga kerja serta produktivitas pada masa mendatang menjadi kunci.

Bagi pelaku pasar dan investor, sinyal ini mengindikasikan bahwa ruang fiskal Indonesia ke depan akan semakin ketat. Belanja negara berpotensi naik seiring bertambahnya penduduk lanjut usia, sementara penerimaan negara menghadapi tekanan. Arah prioritas belanja pemerintah dalam beberapa tahun mendatang akan menjadi indikator penting bagi sektor pendidikan, kesehatan, dan ketenagakerjaan.

Terkini