Terungkap di Persidangan, UAS Bocorkan Tiga Nama yang Pernah Disiapkan Jadi Wakil Abdul Wahid Sebelum SF Hariyanto

Kamis, 18 Juni 2026 | 18:12:11 WIB
Ustadz Abdul Somad saat menjadi saksi dalam sidang kasus Abdul Wahid di PN Pekanbaru, Kamis (18/6/2026).

PEKANBARU – Sidang lanjutan perkara dugaan pemerasan anggaran Unit Pelaksana Teknis (UPT) Jalan dan Jembatan Dinas PUPR-PKPP Riau dengan terdakwa Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid menghadirkan saksi meringankan yang cukup menyita perhatian publik, Kamis (18/6/2026). Salah satu saksi yang hadir adalah Ustaz Abdul Somad (UAS).

Kehadiran UAS di Pengadilan Negeri Pekanbaru disambut antusias oleh para pendukung Abdul Wahid. Sejumlah ibu-ibu tampak melantunkan salawat saat UAS memasuki area pengadilan menuju ruang sidang.

Sejak pagi, ruang sidang telah dipenuhi massa pendukung Abdul Wahid. Tidak hanya di dalam ruang persidangan, para pendukung juga memadati area ruang tunggu pengadilan. Kondisi tersebut bahkan membuat sejumlah awak media kesulitan mendapatkan akses masuk untuk meliput jalannya sidang.

Sebelum memberikan keterangan, UAS terlebih dahulu disumpah sesuai agama Islam. Dalam kesaksiannya, ia lebih banyak menceritakan hubungan dan proses politik yang mengantarkan Abdul Wahid maju sebagai calon Gubernur Riau hingga akhirnya berpasangan dengan SF Hariyanto.

Di hadapan majelis hakim, UAS mengungkapkan bahwa dirinya termasuk orang yang mendorong Abdul Wahid untuk maju dalam kontestasi Pilgub Riau. Bahkan, ia mengaku sempat mengusulkan sejumlah nama yang dinilai layak mendampingi Abdul Wahid sebagai calon wakil gubernur.

Menurut UAS, ada tiga nama yang pernah ia rekomendasikan, yakni Mawardi Saleh, Zukri Misran, dan Muhammad Harris.

"Jadi Pak Wahid jadi gubernur bisa memperjuangkan ke pusat, sementara wakil bisa menjaga di bawah (daerah). Ketiganya ini adalah orang pesantren," ujar UAS dalam persidangan.

Ia menjelaskan, salah satu nama yang sempat dipersiapkan secara serius adalah Mawardi Saleh. Bahkan, menurutnya, konsep pasangan Abdul Wahid-Mawardi atau yang dikenal dengan singkatan Abdi Riau sempat dirancang.

"Saya menyarankan Pak Wahid menemui Pak Mawardi Saleh. Bahkan flyer Abdi Riau sudah disiapkan. Namun karena satu dan lain hal, itu tidak terwujud," katanya.

Sementara itu, nama Zukri Misran juga sempat masuk dalam pembahasan. Namun, rencana tersebut tidak berlanjut karena Zukri memilih fokus melanjutkan kepemimpinannya di Kabupaten Pelalawan.

"Pak Zukri menolak karena ingin menjadi Bupati Pelalawan dua periode," ungkapnya.

Setelah sejumlah opsi tersebut tidak berjalan, Abdul Wahid akhirnya memilih SF Hariyanto sebagai pendampingnya dalam Pilgub Riau.

UAS mengaku pada awalnya tidak sepenuhnya sejalan dengan keputusan tersebut. Ia bahkan merasa cukup berat untuk ikut mengampanyekan pasangan Abdul Wahid-SF Hariyanto karena memiliki gambaran pasangan lain yang sebelumnya telah dipersiapkan.

"Lalu Pak Abdul Wahid memilih Pak SF Hariyanto. Awalnya serasa berat mengampanyekannya karena saya mau sepasang dengan yang ada di pikiran saya," kata UAS.

Namun demikian, Abdul Wahid tetap meyakini pilihannya. Menurut UAS, saat itu Abdul Wahid menjelaskan bahwa dirinya telah lama mengenal SF Hariyanto dan yakin dapat bekerja sama dengannya.

Pada akhirnya, UAS menerima keputusan tersebut dan ikut mendukung pasangan Abdul Wahid-SF Hariyanto hingga proses pendaftaran ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).

"Beliau menjawab sudah lama kenal. Hingga akhirnya saya mengantarkan mengawal ke KPU. Saya sendiri yang menyetir mobil Jeep ke KPU," tutur UAS.

Kesaksian UAS menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian dalam sidang tersebut. Meski perkara yang sedang disidangkan berkaitan dengan dugaan pemerasan anggaran di lingkungan Dinas PUPR-PKPP Riau, keterangan UAS turut membuka cerita di balik proses politik yang mengantarkan Abdul Wahid dan SF Hariyanto berpasangan pada Pilgub Riau lalu. (***)

Terkini