Di Balai Raja, Manusia dan Gajah Akhirnya Belajar Berbagi Ruang

Jumat, 22 Mei 2026 | 12:04:31 WIB

DURI — Menjelang subuh, Jhon Hendrik Purba kerap terbangun dari tidurnya. Suara ranting patah dari balik gelap hutan membuat dadanya berdebar. Kadang terdengar hentakan berat dari tanah yang basah selepas hujan. Bagi warga di sekitar Koridor Balai Raja, Kabupaten Bengkalis, suara itu bukan sekadar bunyi malam.

Itu pertanda gajah datang.

Bertahun-tahun lamanya, kehadiran Gajah Sumatera menjadi sumber kecemasan bagi para petani di kawasan tersebut. Sekali kawanan gajah masuk ke kebun, tanaman yang dirawat berbulan-bulan bisa rata dalam semalam. Tidak sedikit warga yang akhirnya hidup dalam rasa takut, terutama saat musim panen tiba.

“Dulu kami selalu waswas. Kalau malam susah tidur karena takut kebun dirusak,” ujar Jhon pelan.

Sebagai Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Alam Pusaka Jaya, Jhon mengaku pernah berada pada titik lelah menghadapi konflik yang terus berulang. Di satu sisi masyarakat membutuhkan lahan untuk bertahan hidup, sementara di sisi lain gajah juga kehilangan ruang jelajahnya akibat menyempitnya kawasan hutan.

Konflik manusia dan satwa liar seperti tidak pernah menemukan ujung.

Namun perlahan, keadaan mulai berubah.

Melalui program penguatan ruang koeksistensi manusia dan gajah yang didampingi PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), masyarakat mulai diajak melihat persoalan dari sudut pandang berbeda. Warga tidak lagi hanya memikirkan bagaimana mengusir gajah, tetapi juga bagaimana hidup berdampingan tanpa saling merugikan.

Perubahan itu dimulai dari kebun.

Masyarakat mulai menerapkan pola agroforestri ramah gajah. Tanaman yang selama ini mudah mengundang satwa liar perlahan diganti dengan komoditas yang lebih aman dan bernilai ekonomi. Cabai menjadi salah satu pilihan utama karena tidak disukai gajah, tetapi memiliki harga jual tinggi.

Di sela kebun, warga juga mulai menanam tanaman tahunan seperti durian, alpukat, kakao, matoa, jengkol hingga kopi. Selain menjadi sumber penghasilan jangka panjang, tanaman tersebut ikut memperkuat tutupan lahan di kawasan koridor satwa.

“Sekarang kami mulai paham, menjaga koridor gajah bukan berarti masyarakat tidak bisa hidup. Justru kalau alam tetap terjaga, kami juga punya masa depan,” kata Jhon.

Langkah lain yang dilakukan warga adalah menyediakan sumber pakan alami bagi gajah di jalur lintasannya. Bersama-sama mereka menanam rumput odot, bambu, pisang, nangka hingga trembesi di beberapa titik kawasan koridor.

Cara itu perlahan menunjukkan hasil.

Ketika kebutuhan pakan tersedia di habitatnya, gajah tidak lagi terlalu sering masuk ke kebun warga. Ketegangan yang dulu hampir setiap malam dirasakan masyarakat mulai berkurang.

Kini, warga Balai Raja tidak lagi sepenuhnya memandang gajah sebagai ancaman. Ada kesadaran baru yang tumbuh bahwa satwa itu juga bagian dari kehidupan yang harus dijaga.

Tidak hanya bertani, masyarakat juga mulai mengembangkan peternakan sapi dan kambing berbasis silvopastura, yakni sistem pemanfaatan lahan terpadu tanpa membuka kawasan hutan baru. Pola ini dinilai lebih ramah lingkungan sekaligus membantu ekonomi warga.

Manager Community Involvement and Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan upaya menjaga ekosistem harus berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat.

“Ketika masyarakat mendapatkan solusi ekonomi yang baik, maka upaya menjaga lingkungan juga akan lebih kuat. Apa yang dilakukan masyarakat Balai Raja menjadi contoh bagaimana manusia dan satwa bisa hidup berdampingan,” ujarnya.

Di tengah tekanan terhadap hutan dan menyusutnya ruang hidup satwa liar di Riau, Balai Raja menghadirkan cerita berbeda. Bukan tentang konflik, melainkan tentang upaya mencari jalan tengah.

Kini, saat pagi datang di Balai Raja, suara ranting patah dari balik hutan memang masih terdengar. Gajah-gajah itu masih melintas di jalurnya.

Bedanya, warga tidak lagi selalu melihatnya dengan rasa marah dan ketakutan.

Di tanah itu, manusia dan gajah perlahan mulai belajar berbagi ruang kehidupan. (***)

Terkini