Pacu Sampan di Balai Pungut, Tradisi yang Hidupkan Ekonomi dan Budaya Tepian Batang Mandau

Rabu, 12 November 2025 | 12:36:48 WIB
Suasana tepian Sungai Mandau di Desa Balai Pungut, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, tampak begitu meriah. (ist)

BENGKALIS — Suasana tepian Sungai Mandau di Desa Balai Pungut, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, tampak begitu meriah. Ratusan warga tumpah ruah di pinggiran sungai, sementara di atas air, deretan sampan berwarna merah melaju kencang, dikayuh penuh semangat oleh para peserta yang mengenakan pelampung oranye cerah. 

Sorak-sorai penonton bersahutan setiap kali satu tim mulai unggul, menambah semarak lomba pacu sampan yang telah menjadi tradisi turun-temurun masyarakat setempat.

Dari atas dermaga kayu, warga mengibarkan bendera dan pita warna-warni berkibar tertiup angin, menandai dimulainya babak demi babak perlombaan. Di sisi lain, para pedagang UMKM tak mau kalah sibuk. 

Mereka memanfaatkan momentum ini dengan menjajakan aneka makanan dan minuman khas, mulai dari es kelapa muda, sate, hingga gorengan hangat yang laris manis diserbu pengunjung.

Tradisi pacu sampan di Desa Balai Pungut ini merupakan bagian dari Program Desa Wisata dan Desa Kreatif, yang bertujuan menggali potensi ekonomi dan budaya masyarakat lokal. 

Tahun ini, terdapat tujuh tim dari berbagai desa di sekitar Sungai Mandau yang ikut berpartisipasi, menambah daya tarik dan semangat kebersamaan antarwarga.

Sekretaris Desa Balai Pungut, Surya, menyampaikan rasa terima kasihnya atas dukungan berbagai pihak, khususnya PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) yang ikut membantu terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Kami sangat berterima kasih atas perhatian dan bantuan PHR. Harapan kami, kegiatan ini dapat meningkatkan perekonomian masyarakat serta menjadikan wisata Tepian Batang Mandau semakin dikenal,” ujarnya.

Selain menjadi ajang olahraga tradisional, kegiatan ini juga menjadi wadah mempererat silaturahmi, sekaligus menghidupkan kembali semangat gotong royong di tengah masyarakat. 

Desa Balai Pungut sendiri dikenal memiliki nilai sejarah penting bagi industri migas nasional, karena menjadi salah satu titik awal kegiatan perminyakan di Indonesia sejak tahun 1932. 

Kini, desa ini terus bertransformasi menjadi destinasi wisata budaya dan alam yang memperkuat identitas lokal.

Dengan dukungan masyarakat, pemerintah desa, dan pihak swasta, tradisi pacu sampan di Tepian Batang Mandau bukan sekadar lomba adu cepat di sungai, melainkan simbol semangat kebersamaan yang terus mengalir seiring waktu. (***)

Terkini