Pangsa pasar kendaraan energi baru Indonesia melonjak dari 2 persen pada 2023 menjadi 26 persen per September 2026, dan Arista Group meresponsnya dengan membuka 20 diler BYD dan Danza sekaligus. Ekspansi ini menambah jaringan Arista menjadi lebih dari 45 lokasi, dengan klaim BYD dan Danza menguasai sekitar 37 persen pasar NEV nasional.
Peresmian serentak 20 diler itu berlangsung pada Jumat (16/10/2026), dengan PIK 2 menjadi lokasi terbesar untuk BYD dan DENZA. Empat belas dari titik baru berada di Pulau Jawa, sisanya enam tersebar di luar Jawa.
Sebaran Diler Baru: 14 Titik di Jawa, 6 di Luar Jawa
Konsentrasi terbesar tetap di Jabodetabek, mencakup PIK 2, Daan Mogot, Hasyim Ashari, Modernland, Summarecon Serpong, Cinere, Sentul, dan Tangerang. Jawa Barat mendapat tiga titik lewat Bandung Suci, Purwakarta, dan Sukabumi, sementara Jawa Timur diwakili Sidoarjo dan Malang.
Enam diler di luar Jawa tersebar di Batam, Panam, Bengkulu, Padang, Palangkaraya, dan Martapura. Pola ini menunjukkan Arista tidak hanya menggarap pasar mobil listrik di kota besar, tapi mulai menyentuh wilayah dengan infrastruktur pengisian daya yang masih terbatas.
Dengan tambahan tersebut, jaringan Arista kini mencakup lebih dari 45 lokasi. Angka itu menempatkan grup ini sebagai salah satu distributor terbesar untuk merek BYD dan Danza di Indonesia.
Klaim 37 Persen Pasar NEV dan 110.000 Keluarga
Menurut Arista, BYD dan Danza menguasai sekitar 37 persen pasar NEV nasional. BYD Group juga diklaim telah dipilih lebih dari 110.000 keluarga Indonesia, mencakup mobil listrik murni (EV) maupun Dual Mode (DM) yang memadukan tenaga listrik dan mesin hybrid.
Angka 37 persen itu perlu dibaca hati-hati. Klaim tersebut berasal dari pihak distributor sendiri, bukan dari data gabungan Gaikindo atau lembaga riset independen. Pembaca yang membandingkan merek sebaiknya menunggu rilis data wholesales resmi sebelum menyimpulkan siapa pemimpin pasar sebenarnya.
Yang Perlu Diperhatikan dari Ekspansi Ini
Kecepatan pembukaan diler tidak otomatis berarti kualitas layanan purnajual ikut merata. Diler baru di luar Jawa, misalnya, masih harus membuktikan kesiapan teknisi dan ketersediaan suku cadang, dua hal yang paling sering dikeluhkan pemilik mobil listrik di daerah.
Dari sisi konsumen, bertambahnya titik penjualan memang mempermudah test drive dan pembelian. Namun keputusan membeli mobil puluhan juta rupiah sebaiknya tetap mempertimbangkan jarak ke bengkel resmi terdekat, bukan hanya jarak ke diler.
Konteks Pasar: Lonjakan Lebih dari 13 Kali Lipat
Pangsa pasar NEV naik dari sekitar 2 persen pada 2023 menjadi 26 persen hingga September 2026. Lonjakan lebih dari 13 kali lipat dalam tiga tahun itu menjelaskan mengapa distributor berlomba memperluas jaringan.
Bagi pembaca yang sedang mempertimbangkan mobil listrik atau hybrid, pertumbuhan pasar sebesar ini punya dua sisi. Di satu sisi, persaingan merek dan diler yang makin ketat biasanya menekan harga dan memperbaiki layanan. Di sisi lain, pertumbuhan cepat juga berarti nilai jual kembali model-model lama belum teruji dalam siklus panjang.
Verdict: Sinyal Pasar, Bukan Jaminan Kualitas
Peresmian 20 diler dalam sehari adalah sinyal kuat bahwa Arista serius menggarap segmen NEV, dan bagi calon pembeli di Batam, Padang, atau Palangkaraya, ini kabar praktis karena akses ke diler resmi jadi lebih dekat. Tapi klaim 37 persen pangsa pasar dan 110.000 keluarga sebaiknya diverifikasi ke data penjualan resmi, dan kualitas purnajual di titik-titik baru masih perlu dibuktikan lewat pengalaman pemilik pertama.