Peneliti Senior Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, memperingatkan fenomena El Nino kategori sangat kuat pada 2026-2027 berpotensi memicu kemarau lebih panjang di sejumlah wilayah Indonesia. Peringatan itu disampaikan dalam sebuah webinar yang mengacu pada analisis 14 model iklim NASA NEX-GDPP, dengan proyeksi ancaman kekeringan berlanjut hingga periode 2027-2028. Temuan ini memperkuat urgensi kesiapsiagaan lintas negara menghadapi tekanan panas ekstrem dan risiko sektor pangan.
Erma menilai dampak El Nino tahun ini di Indonesia memperlihatkan pola spasial yang semakin beragam dan tidak lagi sederhana jika hanya berpijak pada garis ekuator. Karena itu, ia mendorong penguatan kesiapsiagaan serta kerja sama riset lintas negara untuk mengantisipasi dampaknya.
"Perambatan gelombang El Nino memicu pergeseran musim kemarau yang lebih panjang serta meningkatkan ancaman tekanan panas ekstrem atau indeks suhu bola basah (Wet Bulb Global Temperature/WGBT)," kata Erma.
Kalimantan dan Papua Paling Rentan
Kajian Erma bersama tim menyoroti risiko produksi padi dan tekanan panas lingkungan. Hasil pengukuran memakai indeks WGBT menunjukkan wilayah Kalimantan dan Papua sangat rentan terhadap panas, sekaligus berpotensi meningkatkan kebakaran hutan.
Berdasarkan simulasi dan analisis dari 14 model iklim NASA NEX-GDPP, ancaman kekeringan akibat El Nino diproyeksikan masih berlanjut hingga periode 2027-2028. Temuan itu menandakan perlunya kewaspadaan jangka panjang dari berbagai pihak.
Anomali Suhu Pasifik Lampaui Rekor 2015
Mark Merrified dari Scripps Institution of Oceanography menyampaikan bahwa anomali suhu permukaan laut di Pasifik Khatulistiwa menunjukkan sinyal kuat menuju fase Super El Nino yang diperkirakan bertahan hingga awal 2027.
"Untuk musim Oktober hingga Desember 2026, terdapat peluang sebesar 75 persen bahwa fenomena ini akan menjadi peristiwa bersejarah yang kekuatannya melampaui rekor El Nino sebelumnya sejak tahun 1950-an," kata Mark.
Anomali suhu di Samudra Pasifik telah melampaui rekor, beberapa bulan sebelum fenomena El Nino diperkirakan mencapai puncaknya. Anomali di wilayah itu mencapai 3,05 derajat Celsius di atas rata-rata periode 1991-2020, melewati rekor 3,02 derajat Celsius pada akhir November 2015.
Ukuran lain yang banyak dipakai ahli meteorologi, yakni ONI di wilayah Niño 3.4, hanya terpaut 0,01 derajat Celsius di bawah rekor 2015.
Proyeksi Model Sentuh 4 Derajat Celsius
Ilmuwan iklim Zeke Hausfather menelaah 14 model yang rata-rata memproyeksikan anomali suhu mencapai sekitar 4 derajat Celsius pada November dan Desember. Analisis Hausfather yang diterbitkan Carbon Brief menyebut proyeksi penguatan tersebut mencengangkan.
Menurutnya, analisis terumbu karang, lingkaran pertumbuhan pohon, dan dokumen sejarah mengindikasikan belum ada El Nino yang mencapai tingkat tersebut dalam satu milenium terakhir.
Rangkaian temuan ini menempatkan kesiapsiagaan iklim sebagai agenda mendesak bagi pemerintah daerah, pelaku usaha pertanian, dan lembaga riset di Indonesia menjelang puncak fenomena pada akhir 2026.