Starcloud Bakal Tambang Bitcoin di Luar Angkasa Lewat Wahana Starcloud-2

Kamis, 24 September 2026 | 11:23:01 WIB
Starcloud berencana menjalankan penambangan Bitcoin komersial pertama di luar angkasa melalui wahana Starcloud-2.

Starcloud, startup teknologi yang didukung Nvidia, berencana menjalankan penambangan Bitcoin komersial pertama di luar angkasa melalui wahana Starcloud-2 yang dijadwalkan meluncur awal 2027. Misi ini memanfaatkan pasokan energi matahari di orbit untuk menopang perangkat keras penambangan yang boros daya. Langkah tersebut menandai babak baru dalam persaingan infrastruktur komputasi antariksa yang juga dilirik Google.

CEO Starcloud Philip Johnston mengklaim Starcloud-2 akan menjadi wahana pertama yang membawa hardware penambangan kripto berbasis ASIC ke ruang angkasa. Wahana itu akan beroperasi di orbit sun-synchronous agar mendapat pasokan energi matahari tanpa henti.

Misi Lanjutan dari Starcloud-1

Starcloud sebelumnya telah meluncurkan satelit penguji Starcloud-1 berbobot 60 kg pada November 2025. Satelit itu membawa chip AI Nvidia H100 sebagai bagian dari pengujian komputasi di orbit.

Keberhasilan Starcloud-1 menjadi fondasi bagi rencana pembangunan pusat data komersial berbasis energi surya di luar angkasa. Starcloud-2 adalah langkah lanjutan menuju ekosistem tersebut.

Mengapa Energi Matahari Jadi Daya Tarik Utama

Di orbit sun-synchronous, satelit bisa mendapat sinar matahari hampir sepanjang waktu tanpa gangguan siklus siang-malam seperti di bumi. Kondisi ini menjanjikan listrik yang jauh lebih murah untuk operasional perangkat keras berdaya besar.

Konsep pusat data antariksa juga dilirik Google lewat proyek Project Suncatcher. Proyek itu memanfaatkan TPU serta jaringan komunikasi optik antar-satelit untuk membangun komputasi di orbit.

Tantangan Pendinginan di Ruang Hampa

Ruang hampa udara tidak memungkinkan pendinginan berbasis konveksi seperti aliran udara di data center darat. Panas dari perangkat elektronik harus dibuang memakai radiator inframerah khusus agar chip tidak kepanasan.

Johnston menyebut biaya perangkat keras ASIC dengan konsumsi daya 1 kW berkisar USD 1.000 atau sekitar Rp 16 juta. Angka itu jauh lebih murah dibandingkan GPU Nvidia B200 dengan konsumsi daya sama yang mencapai USD 30.000 atau sekitar Rp 480 juta.

Risiko Usang dan Saingan dari Bumi

Perangkat ASIC punya masa pakai dan efisiensi yang cepat usang dibanding GPU. Ini menjadi risiko tersendiri karena mengganti hardware di orbit jauh lebih sulit dan mahal daripada di darat.

Penambang Bitcoin di bumi juga sudah memanfaatkan sumber energi murah seperti gas buang (flare gas) dengan tarif hanya 2 hingga 3 sen per kWh. Artinya, keunggulan energi matahari di orbit belum tentu menang secara ekonomi begitu biaya peluncuran diperhitungkan.

Penentu Keberhasilan

Keberhasilan penambangan kripto di luar angkasa akan bergantung pada tiga hal: efisiensi biaya peluncuran, ketahanan sistem pendingin radiator, serta masa pakai operasional chip ASIC di orbit. Ketiganya masih harus dibuktikan lewat misi Starcloud-2.

Jika berhasil, Starcloud berpotensi membuka jalan bagi pusat data komersial di orbit yang melayani beragam kebutuhan komputasi, bukan hanya penambangan kripto. Namun hingga wahana itu meluncur pada 2027, semua masih sebatas rencana yang menunggu pembuktian teknis.

Terkini