Pasokan di Riau Sudah Ditambah 27 Persen, Tapi Antrean BBM Subsidi di SPBU Masih Mengular, Ada Apa ?

Senin, 07 September 2026 | 16:56:50 WIB

SELARASRIAU.COM, PEKANBARU – Pertamina Patra Niaga telah meningkatkan pasokan bahan bakar minyak (BBM) di Riau hingga lebih dari 27 persen dibandingkan rata-rata April 2026. Namun, tambahan pasokan tersebut belum sepenuhnya mampu meredam antrean kendaraan untuk mendapatkan BBM subsidi di sejumlah SPBU.

Pertamina mengungkap, persoalannya bukan hanya pada jumlah BBM yang disalurkan. Kebutuhan masyarakat memang mengalami peningkatan dalam beberapa bulan terakhir. Di sisi lain, mulai terjadi perubahan pola konsumsi, termasuk peralihan sebagian pengguna BBM nonsubsidi ke BBM subsidi.

Sales Area Manager Riau Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Wilson Eddi Wijaya, mengatakan kondisi antrean pada April 2026 masih relatif normal. Situasinya kemudian berubah pada bulan-bulan berikutnya seiring meningkatnya kebutuhan BBM.

“Kalau kita bandingkan dengan April, waktu itu kondisi antrean masih normal. Setelah April mulai terlihat ada peningkatan kebutuhan,” kata Wilson di Pekanbaru, Senin (7/9/2026).

Pertamina kemudian merespons kondisi tersebut dengan meningkatkan pasokan. Memasuki Agustus hingga September, jumlah BBM yang disalurkan sudah lebih tinggi dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.

“Untuk Agustus sampai September, pasokan yang kita tambah sudah lebih dari 27 persen dibandingkan rata-rata April. Jadi memang terlihat kebutuhannya sekarang meningkat,” ujarnya.

Meski pasokan telah ditambah cukup besar, meningkatnya kebutuhan membuat tekanan terhadap BBM subsidi tetap terjadi.

Pertamina menemukan salah satu faktor yang ikut mendorong kondisi tersebut adalah perubahan pilihan konsumen dalam membeli BBM.

Sebagian masyarakat yang sebelumnya menggunakan BBM nonsubsidi mulai beralih ke jenis BBM yang mendapat subsidi atau kompensasi. Perbedaan harga antara kedua jenis bahan bakar dinilai ikut memengaruhi pilihan tersebut.

“Kebutuhannya memang naik. Tapi selain itu, ada juga perubahan pola konsumsi. Sebagian yang sebelumnya menggunakan BBM nonsubsidi sekarang beralih karena ada perbedaan harga,” kata Wilson.

Peralihan tersebut salah satunya terjadi pada konsumen bahan bakar diesel. Pertamina melihat adanya kemungkinan pengguna Dexlite beralih menggunakan Solar.

Fenomena itu semakin mendapat perhatian setelah adanya penyesuaian harga BBM mulai 1 September 2026.

“Sejak 1 September juga ada penyesuaian harga. Jadi mungkin ada masyarakat yang sebelumnya memakai Dexlite kemudian memilih beralih ke Solar,” jelasnya.

Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap BBM subsidi ikut bertambah. Dengan kata lain, peningkatan antrean di SPBU tidak hanya dipengaruhi pertumbuhan konsumsi secara umum, tetapi juga pergeseran penggunaan dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi.

Pertamina kini terus mengevaluasi pola konsumsi dan penyaluran BBM di Riau. Distribusi menjadi perhatian karena kebutuhan setiap daerah tidak sama dan perkembangan konsumsi dapat berubah.

Koordinasi juga dilakukan bersama pemerintah daerah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota, untuk memastikan pasokan dapat disalurkan sesuai kebutuhan.

“Kita terus berkoordinasi, bukan hanya dengan pemerintah provinsi tetapi juga kabupaten dan kota. Seluruh 12 kabupaten/kota harus kita lihat supaya penyaluran BBM tetap berjalan dengan baik,” ujar Wilson.

Peningkatan kebutuhan BBM ini sebelumnya juga membuat Pemerintah Provinsi Riau mengajukan tambahan kuota ke pemerintah pusat. Pemprov mengusulkan tambahan Bio Solar sebanyak 99.700 kiloliter (KL) dan Pertalite 99.556 KL.

Total tambahan yang diajukan mencapai 199.256 KL. Namun, realisasinya masih menunggu persetujuan pemerintah pusat melalui BPH Migas.

Sementara itu, penjelasan Pertamina menunjukkan tantangan yang dihadapi bukan sekadar menambah pasokan. Ketika konsumsi meningkat dan sebagian pengguna BBM nonsubsidi mulai bergeser ke BBM subsidi, kebutuhan terhadap bahan bakar bersubsidi pun ikut mendapat tekanan lebih besar. */(Dil)

Terkini