BMKG Ingatkan El Nino Kuat Ancam Indonesia Mulai Juli, Waspadai Kekeringan hingga Karhutla

Senin, 29 Juni 2026 | 21:55:05 WIB

JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino akan mulai berdampak di Indonesia pada periode Juli hingga September 2026. Menghadapi kondisi tersebut, BMKG meminta seluruh kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan guna meminimalkan berbagai risiko yang dapat ditimbulkan.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan El Nino berpotensi memicu kekeringan, mengganggu produksi pangan, meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), menurunkan kualitas udara, hingga memberi tekanan terhadap inflasi di berbagai daerah.

"Langkah antisipasi perlu dilakukan sejak dini untuk mengurangi berbagai risiko yang ditimbulkan akibat El Nino," ujar Teuku Faisal dalam sosialisasi kesiapsiagaan menghadapi dampak fenomena El Nino pada Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri dan disiarkan melalui kanal YouTube Kemendagri, Senin (29/6/2026).

Menurutnya, hingga Juni 2026 sejumlah wilayah telah memasuki musim kemarau. Dampak El Nino diperkirakan akan lebih terasa di kawasan selatan garis khatulistiwa, meliputi Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, wilayah pesisir Pulau Jawa, hingga Sumatra bagian selatan.

Selain itu, wilayah lain yang diprediksi mengalami dampak signifikan meliputi Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, dan Papua bagian selatan. Pada periode Juli hingga Oktober 2026, curah hujan di daerah-daerah tersebut diperkirakan berada di bawah normal dibandingkan rata-rata klimatologis.

BMKG mencatat fenomena El Nino kini telah memasuki kategori kuat dengan peluang mencapai 98 persen. Kondisi tersebut diperkirakan akan menyebabkan penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia, terutama selama puncak musim kemarau.

"Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, fenomena El Nino telah memasuki kategori kuat dengan peluang mencapai 98 persen. Oleh karena itu, El Nino berpotensi menyebabkan penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di bagian selatan garis khatulistiwa selama puncak musim kemarau," jelasnya.

Teuku Faisal menjelaskan, El Nino merupakan fenomena iklim global yang memengaruhi pola distribusi curah hujan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Meski demikian, masyarakat perlu memahami bahwa El Nino berbeda dengan musim kemarau.

Menurutnya, musim kemarau merupakan siklus tahunan yang selalu terjadi, sedangkan El Nino adalah fenomena periodik yang dapat memperkuat kondisi kering apabila terjadi bersamaan dengan musim kemarau.

Ia memperkirakan El Nino akan berlangsung selama sembilan hingga 12 bulan. Namun, kondisi tersebut bukan berarti Indonesia akan mengalami kemarau sepanjang periode tersebut.

"Yang perlu kita waspadai bukan lamanya El Nino, tetapi ketika fenomena ini bertepatan dengan musim kemarau. Pada periode itulah curah hujan menjadi lebih sedikit dibandingkan kondisi normal sehingga berbagai sektor perlu meningkatkan kesiapsiagaan," tegasnya.

Menutup paparannya, Kepala BMKG mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menghadapi dampak El Nino agar risiko yang ditimbulkan dapat ditekan semaksimal mungkin.

"Saya yakin, dengan koordinasi lintas sektor yang kuat, bangsa Indonesia akan semakin tangguh dan siap menghadapi fenomena iklim ini," pungkasnya. (***)

Terkini