Di Antara Nada dan Kenangan, Letto Menyulam Ruang Rindu di Pekanbaru

Ahad, 21 Juni 2026 | 12:13:09 WIB

PEKANBARU — Malam di GOR Remaja Pekanbaru perlahan berubah menjadi ruang waktu yang terbuka kembali. Lampu panggung temaram, sorak penonton mengalun, dan satu per satu lagu membawa ribuan orang kembali pada masa-masa yang pernah mereka simpan dalam diam.

Di tengah suasana itu, Letto hadir bukan sekadar sebagai pengisi panggung, tetapi sebagai pemantik kenangan. Konser bertajuk “Ruang Rindu” yang digelar Sabtu (20/6/2026) malam itu menjelma menjadi perjalanan emosional yang sulit disederhanakan sebagai sekadar pertunjukan musik.

Sejak awal acara, ribuan penonton sudah memenuhi area GOR Remaja. Mereka datang bukan hanya untuk menonton, tetapi seperti hendak menemui kembali sesuatu yang lama hilang—suara, masa muda, atau mungkin perasaan yang pernah tertinggal di suatu waktu.

Ketika Noe, Patub, Arian, dan Dhedot naik ke panggung, tepuk tangan berubah menjadi gelombang panjang yang seakan menandai dimulainya sebuah perjalanan nostalgia. Lagu-lagu yang pernah hidup di era 2000-an itu kembali mengalir, membawa penonton dalam suasana yang hangat sekaligus sendu.

“Senang sekali. Setelah menunggu lama, akhirnya Letto kembali tampil di Pekanbaru,” ujar Ica, salah satu penonton yang mengaku sudah lama menjadi penggemar.

Ia bahkan sempat kesulitan mendapatkan tiket karena tingginya antusiasme penonton. Namun, baginya, perjuangan itu terbayar ketika ia akhirnya bisa berdiri langsung di tengah keramaian konser yang penuh emosi tersebut.

Hal serupa dirasakan Aret, penonton lainnya, yang menyebut konser ini seperti jeda panjang yang akhirnya terisi kembali. “Sudah lama tidak ada konser besar di Pekanbaru. Malam ini seperti dapat energi baru lagi,” katanya.

Satu per satu lagu dibawakan, mulai dari Mutiara, Sebenarnya Cinta, Sandaran Hati, hingga Ruang Rindu yang menjadi titik puncak emosional malam itu. Penonton larut, sebagian bernyanyi pelan, sebagian lainnya hanya diam menikmati setiap bait yang seolah berbicara langsung pada ingatan masing-masing.

“Sampai Nanti Sampai Mati” dan “Sebelum Cahaya” menjadi penutup yang meninggalkan jejak tenang di akhir pertunjukan—seperti pintu yang perlahan ditutup setelah sebuah perjalanan panjang ke masa lalu.

Konser “Ruang Rindu” malam itu tidak hanya menghadirkan musik, tetapi juga membuka kembali lapisan-lapisan kenangan yang selama ini tersimpan. Di Pekanbaru, rindu bukan sekadar kata, melainkan sesuatu yang bisa didengar, dirasakan, dan dinyanyikan bersama. */(Man)

Terkini